TB, Bisa Disembuhkan Kok!

Bulan Mei 2018 ini, bisa jadi salah satu bulan terindah dalam hidup saya. Apa sebabnya? Karena penyakit TB Miller saya dinyatakan bersih dan LED (Laju Endap Darah) yang skornya memenuhi nilai normal. Tapi saya mau cerita soal TB Miller saja di sini. LED? Nantilah, karena masih perlu dipantau perkembangan selanjutnya (bulan-bulan berikutnya).

 

Infeksi Paru Gegara Lupus

Kalau mendengar kata TBC atau TB, yakinlah membuat kita bergidik. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Penyebarannya melalui udara dimana saat pasien batuk yang mengeluarkan percikan dahak lalu terhirup orang lain. Penyakit TB menjadi akan penyakit yang menakutkan karena bila tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan kematian atau bisa juga ia menjadi resisten terhadap obat (Multidrug-Resistant/ MDR) dan menjadikan pengobatannya lebih sulit.

 

Penyakit TB, sepengetahuan saya identik dengan penyakit yang berkembang di dunia ketiga. Menurut data WHO (data tahun 2015) yang dikutip dari laman Indopos.com, India (Eh India masih dunia ketiga nggak ya?) menempati peringkat tertinggi, tercatat sebanyak 2,8 juta kasus TB di negara Kuch Kuch Hota Hai tadi. Lalu disusul Indonesia (oh ini yang bikin sedih) pada peringkat kedua, yakni 1,02 juta kasus, dan Tiongkok 918 kasus. Memperihatinkan.

 

Saya sebagai orang yang pernah dengan TB pun paham dan tahu bagaimana rasanya TB itu. Tak pernah terpikirkan bahwa saya akan menyandang TB. Tapi nasib dan takdir menyatakan demikian. Apa boleh buat? Maka – meminjam kata-katanya Soe Hok Gie – Terimalah dan Hadapilah. Inilah jalan yang saya pilih.

 

Ketika telah divonis TB – waktu itu ketahuannya di RS Kramat 128 Jakarta Pusat, saya berpikir mundur. Apa sih yang bikin saya TB? Tapi susah ya. Yang saya ingat jelang-jelang TB mengalami demam, nafsu makan menurun, badan panas dan ini loh yang paling top: batuk tidak berhenti-henti. Sampai malam mau tidur pun saya tetap batuk. Nggak bisa tidur. Ternyata apa yang saya alami itu, memang merupakan gejala TB.

 

Sudah saya minumin beberapa obat batuk, tidak mempan. Kepastian saya positif TB, datang dari dokter-dokter yang merawat saya di RS Kramat 128. Bisa Prof dr Zubairi Djoerban, bisa dokter Sugiyono alias dokter Sugi. Saya nggak tahu bagaimana ceritanya. Tapi dari hasil tanya-tanya dan analisis pribadi, TB yang saya idap itu kemungkinan besar lantaran imun saya yang rendah. Efek dari lupus saya.

 

Antara Dokter Ratna dan Obat TB

Obat TB itu enggak enak. Inilah yang saya ingat jika harus mengenang masa-masa harus minum obat itu. Lupa sejak kapan tapi catatan medis menyebut 23 Januari 2017. Sedangkan saya ingatnya sekeluarnya dari rawat inap di RS Kramat 128, Februari tanggal 20-an. Setiap pagi saya harus bangun pukul 6 pagi untuk meminum obat TB. Kalau jam segitu masih tidur, si Mbak Siti (yang mengurus saya saat itu) yang akan membangunkan saya. Lalu memberikan tiga kaplet obat TB dan air minum. Obat TB ini bentuknya kaplet (seperti yang sudah saya tulis), warnanya merah tua atau ada juga yang menyebut cokelat. Komposisinya Rifampicin, Isoniazid (INH), Ethambutol dan Pyrazinamide. Kesemua obat ini; Rifampicin, INH, Ethambutol, Pyrazinamide dan Streptomycin (akan saya jelaskan di bawah) merupakan obat TB lini pertama. Obat ini (kaplet) dari yang saya dengar merupakan obat gratis dari pemerintah. Pasalnya pemerintah Indonesia mencanangkan program TOSS TB (Temukan dan Obati Sampai Sembuh Tuberkulosis) sejak 2016.

 

Awalnya saya ogah-ogahan minum obat itu. Bentuk atau tampilannya saja sudah tidak menarik. Sekali minum 3 biji. Minum satu saja sudah bikin saya mual dan susah lho menelannya. Tenggorokan saya mungkin diameternya kecil ya. Sehingga obat TB yang berukuran (sebenarnya) biasa saja jadi nampak besar dan susah ditelan. Rasanya mau menangis waktu awal-awal saya harus minum obat itu. Minum tiap hari tapi ya begitu deh, terpaksa. Tidak ikhlas.

 

Semua berubah setelah saya ngobrol dengan kawan sesama penyintas SLE. Dia cerita dulu juga TB dan minum obat seperti yang saya minum. Kawan yang satu lagi bilang TB bisa sembuh. Ah, ini jadi mengademkan hati saya. TB memang bikin ketar-ketir.

 

Kawan kedua juga bilang hal yang sama sambil ditingkahi pengalamannya kala minum obat TB. Dia bilang bangun subuh lalu minum obat TB rutin. Rutinitas, tepat waktu merupakan kunci dalam menggempur TB. Ini yang saya simpulkan sesudah mendengar ceritanya.

 

Mulai dari situ, saya berubah. Saya bangun paginya dijaga dan tak lupa minum obat TB. Minum dengan keikhlasan dan niatan untuk sembuh. Mungkin karena itu ya, Tuhan menolong saya dalam pengobatan TB. Saat menelan obat TB yang besar itu, tenggorokan tak lagi susah menelan. Mengalir saja.

IMG_3046
Bersama dokter Ratna Andriani, Sp.P saat kontrol di RS Kramat 128, Jakpus pada Sabtu, 19 Mei 2018.

Kemudahan lain? Tuhan menganugerahkan dokter Ratna untuk menangani TB saya. Nama lengkapnya dokter Ratna Andriani, Sp.P. Usia beliau saya tidak tahu. Namun melihat tampilannya masih muda – bisa 30-an akhir atau 40-an awal. Dr Ratna merupakan alumni FKUI yang top itu. Selain praktek di RS Kramat 128, ia juga praktek di RSPAD Gatot Subroto, JakartaPusat.

 

Dokter Ratna aslinya asal Solo, pembawaannya ramah dan murah senyum. Orangnya juga humoris. Pernah suatu kali saya kontrol padanya. Saat kontrol selain membahas soal perkembangan penyakit TB saya, juga ngobrol soal lain. Misalnya pernah ngomong soal suster anu yang begini-begini terus jalannya begitu-begitu. Dokter Ratna tertawa terpingkal ketika melihat saya memeragakan gaya jalan si suster yang sedang dibahas itu. Bahkan sampai minta memeragakan ulang dan walhasil dia ketawa sampai ngakak-ngakak lagi. Makanya enak kalau konsultasi dengannya. Pertama kali saya kontrol dengannya di bulan Mei 2017 (kayaknya sih). Yang merujuk ke dokter Ratna adalah internis saya (juga di RS Kramat 128, dokter Sugi). Pertama kali saya ke dokter Ratna itu baru beberapa bulan keluar dari opname di RS yang sama.

 

Sampai bulan berapa ya saya masih minum obat TB yang kaplet besar itu. Baru kemudian diganti oleh bu dokter. Ah sebenarnya obat yang diminum sama saja komposisinya. Wujudnya yang beda. Kalau sebelumnya beberapa jenis dalam satu kaplet, yang ini tidak. Rifampicin sendiri, INH sendiri dan Ethambutol sendiri. Ketiga ini diresepkan olehnya kepada saya – minus Pyrazinamide.

 

Menurutnya dosis baru yang diresepkannya itu lebih kecil takarannya ketimbang yang dijilid dalam satu kaplet. Entahlah, saya kok merasa sebaliknya lantaran yang Ethambutol sampai harus diminum 2 butir untuk satu kali minum. Tapi saya sih nurut saja apa kata dokter. She is know the best for me. Saya nurut demi lekas sembuh.

 

Pernah lah mengalami rasa bete atau jenuh minum obat TB. Tiga macam tiap hari pula. Tapi saya jalani saja karena niatnya berharap sembuh. Sebenarnya ada sih yang “penerus” TB dari pemerintah. Bentuk obatnya lingkaran, bolong tengahnya. Mirip donat atau permen yang warna-warni dan disukai anak-anak. Obat-obatan yang disupport pemerintah itu gratis pula.

 

Beda dengan obat yang diresepkan oleh dokter Ratna. Menggunakan BPJS kadang free untuk satu bulan, kadang hanya untuk 7 hari dan sisanya harus membeli. Kata Reny (kawan penyintas lupus yang pernah TB) enak yang satu butir obat terdiri dari berbagai komposisi obat untuk menggempur TB. Praktis minumnya. Betul katanya, pernah saya kelupaan minum obat yang versi satuan atau bingung apa obat yang ini sudah diminum atau belum ya?

 

Namun efek positifnya, saya jadi tidak berasa mual setelah meminum obat TB. Hanya air seninya jadi oren kalau habis minum, efek dari Rifampicin.

 

Selain minum obat secara rutin dan tepat waktu, kita memerlukan juga rontgen pada bagian yang suspect TB. Karena saya TB-nya mengenai paru-paru maka foto rontgen dilakukan pada bagian Thorax PA. Melakukan rontgen juga ada frekuensinya. Kalau saya sekitar 5-6 bulan sekali.

 

Dokter spesialis radiologi pasti memberi analisis dari pencitraan foto rontgen. Saya melakukan foto rontgen pada awal Mei 2018 lalu dan mengambil hasilnya 18 Mei 2018. Ke dokter Ratna, besoknya. Deg-degan menunggu vonisnya dokter dan lega saat mendengar kondisi paru saya disebutnya sudah baik.

 

“Terus obatnya gimana dok? Bisa distop?” Kata dokter Ratna, saya perlu minum obat sampai dengan tanggal 23 Mei 2018. Lalu setelahnya sudah bisa distop. Ya ampun, senang sekali mendengarnya. Apalagi kalau ingat saya terus menerus rutin minum obat TB ini selama satu tahun lebih. Ada kawan yang mengatakan bahwa pengobatan TB dilakukan dengan meminum obat selama 6 bulan. Nyatanya tidak secepat itu. Kata dokter Ratna, minimal minum obat selama satu tahun sampai TB nya bersih. Catatan lain, selama menjalani pengobatan TB, kita tidak boleh putus obat dan berganti dokter.

 

Saya pun menyatakan ekspresi gembira selama di ruang praktek dan sepanjang hari itu. Sehari sebelum Sabtu itu saat mengambil hasil rontgen, saya toh sempat membaca kertas keterangan hasil analisis dokter spesialis radiologi. Dokter Budiawan Atmadja, Sp. Rad yang berwenang, menulis tiga kata baik dan kesannya “batas normal”. Saya sih nggak ngerti. Patokannya hanya pada kata baiknya yang banyak itu dan normal dan kesimpulan saya sih bagus.

 

Puji syukur apa yang saya pikirkan dan yakini terealisasi. Dokter Ratna mengatakan hal yang saya harapkan. Rasanya sungguh terharu ketika saat itu tiba. Ketika kesembuhan yang kita harapkan terus menerus, akhirnya berhasil dicapai. Kalau ingat flashback, emosi saya campur aduk.

IMG_2394[1]
Ditemani Imelda Astari sehabis suntik Streptomycin di RS Tzu Chi Cengkareng, Jakarta Barat bulan Februari 2017 |Imelda Astari
Oya, saya tak hanya minum obat TB secara oral lho. Saya juga diobati secara injeksi. Namanya Streptomycin. Prof Zubairi yang meresepkan Streptomycin ini. Jadi selama 30 hari (setiap hari) pascaopname saya harus ke RS untuk injeksi cairan ini. Saat itu saya masih tinggal sementara di Apartemen City Park, Cengkareng, Jakarta Barat dan dekat RS Tzu Chi. Maka kesanalah saya, setiap sore untuk suntik Streptomycin.

 

Masa-masa itu sungguh berat. Saya masih belum bisa berdiri dan jalan sehingga kemana-mana pakai kursi roda dan diinjeksi obat jelas tidak enak. Sekali saja sudah tidak enak, lah ini selama 30 hari di bagian (maaf) bokong. Awalnya diatur bokong kanan 3 hari lalu ganti bokong kiri 3 hari dan seterusnya. Terus berubah jadi saling bergantian. Tetap saja saya aduhai, berasa pegal dan sakit – terlebih usai disuntik.

 

Sampai saya pikir tamat dan kiamat saja. Kenapa Tuhan dan hidup ini sebegitu kejam terhadap saya? Tega (sampai nangis-nangis saya). Jadi gimana tidak terharu dan sentimentil dengan kesembuhan ini. Bersyukur, bersyukur yang ada. Tuhan, terima kasih telah memberi kesembuhan kepada saya, mendengar harapan dan niatan saya untuk sembuh dari TB. Doa yang setiap malam (sebelum tidur) selalu saya ucapkan selama lebih dari satu tahun. Terima kasih telah menunjukkan saya kepada dokter Ratna yang baik. Dokter, terima kasih banyak. Apa yang telah dokter lakukan, selalu di hati saya (Salemba Tengah-Jakarta, 23 Mei 2018).

4 thoughts on “TB, Bisa Disembuhkan Kok!

    1. Obatnya jadi berkurang tiga macam deh. Jadi sekarang minum 2 macam obat (satu lupus dan satu untuk lambung, ini kalo obat lupusnya dah turun jadi 4mg bisa distop. Begitu kata internisku). Tiga macam suplemen multivitamin dan vitamin D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *