Sayonara , Dear My Friends Yuda dan Maria

IMG_0589
Support Group Odapus yang diadakan YLI, Sabtu 8/12/2017 di RS Kramat 128 Jakarta Pusat. Yuda yang mengenakan jaket putih (berdiri di deret belakang, ujung kanan). | Una Nur Husna YLI

Aku terhenyak ketika membaca status Facebook Praditha Lidwina (kawan odapus yang masih remaja) pada Sabtu (13/1) pagi ini. Remember me Though I have to travel far Remember me (Coco); Selamat jalan ya Yuda adikku sayang. Kebersamaan kita akan selalu jadi kenangan, biar kita yang masih disini ngelanjutin perjuangan kamu. Demikian ia menulis. Aku segera paham apa maksudnya dan siapa yang dimaksud. Yuda, seorang adik yang juga odapus. Tapi aku tak percaya. Maka kutanya lagi kepada Wina melalui kolom komentar. Yuda kenapa? Kapan tuh?

Wina menjawab: Yuda meninggal kemarin (Jumat, 12/1/2018), ka. Astaga! Kenapa? Sambungku lagi. Wina bilang dia juga tak tahu, dia pun mengetahui kabar meninggalnya Yuda dari Instagram Una Nur Husna (Una, kawan sesama odapus di Yayasan Lupus Indonesia/ YLI). Segera aku hubungi Una dan tanya mengenai Yuda. Kata Una, Yuda meninggal kemarin sore, pukul 14.30 di RSCM. Una juga kurang tahu kenaa namun sebelum meninggal, Yuda memang telah diopname selama dua hari disana dan awalnya karena demam.

Owalah, betapa sedihnya hati ini. Mengetahui sungguh Yuda telah pergi. Aku mengenal Yuda dalam acara Support Group yang diadakan di RS Kramat 128 oleh Yayasan Lupus Indonesia pada Sabtu 8/12/2017. Acara Support Group ini sebenarnya diperuntukkan untuk anak dan remaja. Aku secara usia sudah lewat, sudah 34 boo (walau secara tampilan masih 26 tahun. Maksa banget, hihi). Aku dikabari dan diajak oleh Mbak Tiara (Tiara Savitri, ketua YLI yang juga odapus). Waktu hari Rabu (6/12/2017) di kantornya (yang lantai 2 RS Kramat) kami mengobrol lalu, disampaikannlah info akan mengadakan Support Group pada Sabtu minggu itu. Tadinya aku ragu mau datang atau tidak. Toh akhirnya datang juga, meski telat-telat dari jam yang telah ditentukan yakni pukul 9 pagi.

Saat tiba disana, sudah ramai. Ada Mbak Tiara, Mbak Marina (pengurus di YLI juga tapi bukan odapus), Una Nur Husna (pengurus YLI dan odapus) dan Mbak Ade (YLI dan odapus juga). Lalu gadis-gadis muda (iya lah) dan cantik-cantik. Sudah pasti itu para odapus remaja yang hendak ikut acara Support Group. Mereka datang, ada yang sendirian dan ada yang ditemani mama atau papanya.Nah aku minder juga lah. Serasa salah tempat. Tuwo sendiri walau disana pengurus-pengurus YLI juga usianya tuwo-tuwo.

IMG_0577.JPG
Yuda ikut tertawa mendengar celotehan Mbak Tiara di Support Group YLI. | Una Nur Husna

Selain itu ada juga odapus remaja yang cowok, hanya seorang dan ia adalah Yuda. Aku baru keciren ada odapus cowok saat acara hendak dimulai. Ketika itu kami duduk lesehan dikarpet yang digelar di ruang tunggu untuk kontrol ke dokter. Kami duduk membentuk lingkaran. Mbak Tiara membuka acara dengan menanyakan satu per satu para odapus tadi. Tidak kuperhatikan semua tapi intinya Mbak Tiara tanya kepada para odapus ihwal awal mereka didiagnosis luus dan seterusnya. Lalu tiba giliran Yuda. Penampilan Yuda, bagi saya lucu dan menggemaskan. Pipinya itu loh – nduts. Itu pasti efek dari obat methylprednisolon alias MP yang diminumnya. Wajahnya juga ada jerawat yang lagi-lagi efek MP atau usia remajanya. Yuda masih usia – hm berapa ya, sepertinya SMP kelas 9. Yuda saat itu datang bersama ibunda dan ayahandanya. Hal lain, Yuda orangnya agak pemalu. Kesan ini saya tangkap saat dia ditanya oleh Mbak Tiara. Ia menjawab namun gesture-nya menunjukkan kurang pede. Yuda menurut saya, pengecualian. Mengapa?

Lantaran kebanyakan odapus ialah bergender perempuan. Pernah dipaparkan oleh dokter Iris Rengganis, SpPD-KAI dalam seminar mengenai penyakit-penyakit imunologi di Hotel Mercure, Jakarta Barat pada 26 September 2017 lalu. Perbandingan perempuan dan laki-laki odapus adalah 9:1.

Saya tidak banyak cakap dengan Yuda selama di acara. Hanya sempat berdiri disebelahnya saat sesi permainan dan sepintas menggenggam tangannya saat permainan di acara tadi. Setelah usai, saya mengobrol sedikit dengan ibunda Yuda. Tanya-tanya dimana berobatnya (RSCM) dan minta nomor kontaknya (WhatsApp dong). Tapi Yuda nggak punya WA, tepatnya sih nggak paham dan nggak bisa menggunakan fitur chat WA. Jadi saya diberi nomor handphone dan kalau mau menghubunginya biasa melalui telepon atau sms. Sampai detik ini, nomor kontaknya masih saya simpan.

Walau tak banyak bicara dengannya dan itu merupakan pertemuan yang pertama (kini sekaligus menjadi yang terakhir), saya mendapat kesan Yuda anak yang baik. Sedih hati ini mengetahui ia telah pergi. Sama seperti kepedihan yang saya rasakan ketika kawan odapus lain, namanya Maria Novita berpulang. Dengan almarhumah, saya tak pernah bertemu. Hanya pernah mengobrol dengannya melalui WA.

Saat itu sekira bulan Juli akhir 2017, ia menghubungi saya. Ia menanyakan perihal batuk-batuk yang tak kunjung sembuh. Saya menduga, ia mengontak saya setelah baca pengalaman saya batuk-batuk yang berujung positif TB di grup Lupus Warriors. Maria hendak mencari pencerahan. Bertanyalah dia tentang riwayat batuk-batuk saya dan sebagainya. Dia pun cerita bahwa sudah pernah cek batuk-batuknya itu ke RS PGI Cikini dan dari hasil rontgen dinyakan bukan TB. Namun saya mendapat kesan, dirinya masih belum sreg dengan hasil itu. Sebab batuk-batuknya tak kunjung sembuh.

Jeda beberapa hari, dia kembali menghubungi saya. Tahu-tahu dia bilang sedang opname di RS PGI Cikini. Ternyata dalam perkembangannya – benar, batuk-batuk tadi berubah menjadi TB. Dia cerita, diharuskan minum obat TB yang bentuknya kaplet sesudah bagun tidur pagi setiap hari. Minum kaplet ini menyebabkan urine kita jadi berwarna orange pekat. Iya, warna kapletnya merah tua, kata saya.

“Merah tua atau cokelat ya? Tadi minum aku nggak sempat fotoin sih. Ntar aku fotoin deh,” katanya. Tanpa disangka itulah percakapan terakhir kami. Baru saya ketahui Ci Maria meninggal dalam perawatan pada tanggal 17 Agustus 2017. Sore hari itu saya membaca notifikasi di grup Lupus Warriors, masuk pesan dari Maria Novita. Diikuti notifikasi Maria Novita Left. Loh, ada apa ya? Saya heran, kok left ya?

Ya ampun, pesan yang masuk adalah foto peti kematian berwarna putih, ditutupi kain sifon warna putih. Didepan peti ada meja yang dijadikan altar. Ada patung kayu salib, lilin dikedua sisi, rangkaian bunga. Kesemuanya didominasi warna putih, kecuali rangkaian bunga yang ada warna kuning dan ungunya. Yang membuat saya tercekat adalah foto. Terpasang jelas, itu foto Ci Maria Novita. Ya ampun, ci! Batin saya dalam hati. Sungguh itu cici? Saya nggak percaya tapi kalimat yang tertulis dibawah kiriman foto adalah nyata. Tertulis Maria Novita telah meninggal menuju ke Rumah Bapa di Surga dan permintaan maaf apabila almarhumah selama hidupnya ada kesalahan. Saya shock ketika membaca keterangan foto. Segera airmata berurai dipipi. Ci Novita telah pergi.

Teringat saya, beberapa hari sebelumnya – sebelum hari kepergiannya – saya punya niat untuk menjenguknya ke Cikini. Kebetulan saat itu saya yang sedang di Jakarta, punya janji bertemu kenalan (mama seorang odapus) yang juga berobat di RS PGI Cikini. Kami berjanji bertemu di Kompleks Metropole di Jalan Pegangsaan, Menteng. Janji sekitar pukul 17. Saya pikir kalau mereka tak bisa, tak apa saya yang ke RS PGI Cikini, bisa sekalian menjenguk Ci Maria. Tapi niat tinggal niat. Karena pada akhirnya almarhumah harus berjalan ke tempat yang lain.

Saya tidak mengenal keduanya begitu mendalam. Lupus lah yang menyatukan kami. Namun kepergian keduanya selalu membekas. Ada tangis dalam hati ketika mengetahui kabar mereka berpulang ke alam lain. Ada perasaan yang terkoyak. Saya tahu, manusia pasti mati. Meninggalkan yang fana ini entah cepat entah lambat. Tetapi kenapa harus mereka? Kenapa sebegitu cepat….. Sayonara Dear My Friend Yuda dan Maria Novita. Di tempat yang abadi itu, saya yakin kalian pasti tersenyum dan tak lagi menderita…. (Salemba Tengah-Jakarta, 13 Januari 2018)

2 thoughts on “Sayonara , Dear My Friends Yuda dan Maria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *