Satria yang Telah “Legowo” (Sebuah Orbituari)

satria fb
Almarhum M Satria Legowo | Fb Satria

Perlu jeda satu hari bagi saya untuk memulai tulisan ini. Mengapa? Saya kaget dan sedih karena kedukaan kehilangan seorang teman, sesama odapus (orang dengan lupus). Saya perlu waktu untuk menata perasaan – walau sejenak – dan baru sekarang inilah bisa “memulainya”.

*

Namanya Muhammad Satria Legowo, biasa dipanggil Satria. Usianya sekitar 27-29 tahun. Satria, sama seperti saya – yang seorang odapus. Bedanya dia lebih senior dari saya alias lebih dahulu menyandang status odapus. Satria inilah yang membuat saya kaget dan sedih. Ya, bagaimana tidak kaget dan sedih? Sebab kepergiannya yang – ah, agak gimana menjelaskannya ya…

Satria meninggal Sabtu lalu, 12 Januari 2019 setelah sempat dirawat di RS Abdul Muluk, Bandar Lampung. Ada cerita sebelum kepergiannya itu. Sekitar seminggu lalu (minggu pertama bulan Januari 2019) saya mendapat kiriman sekotak Cellcept dari kawan odapus yang lain. Sebenarnya saya sendiri tidak meminum Cellcept walaupun berkasus lupus nefritis (ginjal). Selama ini DPL (Dokter Pemerhati Lupus) hanya meresepkan steroid Methylprednisolone (Mp). Kalau pun diresepkan, kayaknya juga bakal menolak. Harganya bikin bergidik. Tak tanggung-tanggung harga per strip mencapai Rp300 ribuan isi 10 kaplet.

 

Jelas bikin keder buat kantung saya yang pas-pasan. Tetapi harus diakui bahwa Cellcept adalah salah satu obat wajib minum odapus apabila berkasus ginjal. Cellcept termasuk golongan imunosupresan non steroid. Dikutip dari lama alodokter.com, Cellcept merupakan merk dagang dari mcycophenolate mofetil yang mana adalah obat golongan imunosupresif yang digunakan oleh pasien transplantasi organ. Penggunaan obat ini bertujuan untuk mencegah tubuh menolak organ baru yang ditanamkan.

 

Cara kerja mycophenolate mofetil dengan menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga gagalnya transplantasi organ dapat dicegah. Obat ini juga dapat dikombinasikan dengan obat lain dalam menangani kondisi. Penggunaan obat ini harus dengan anjuran dan pengawasan dokter. Jika tidak, risiko munculnya efek samping penggunaan obat, seperti penglihatan kabur dan kejang, dapat terjadi.

 

Karena itu dosis minum Cellcept berbeda-beda untuk setiap odapus, tergantung kondisi dan progres lupusnya. Kalau membaik ya jelas dosisnya berkurang, kalau memburuk ya tahu lah bagaimana. Ada teman yang minum 1×1 per hari, 2×1 per hari. Namun di bulan Desember 2018, saya pernah ketemu ibu seorang odapus (yang sedang mengantar anaknya berobat lupus di RS Kramat 128 Jakarta Pusat) dan bilang kalau dosis Cellcept anaknya 4×1 per hari.

 

Dosis 1×1 per hari berarti butuh 3 strip, 2×1 per hari berarti butuh 6 strip. Dosis 4×1 per hari? Silakan hitung sendiri berapa yang dibutuhkan untuk sebulan, termasuk juga berapa besar bujet yang harus disiapkan untuk membeli obat tersebut. Memang Cellcept ini termasuk dalam skema obat yang dicover JKN. Sehingga odapus bisa mendapatkannya gratis apabila berobat menggunakan kartu BPJS atau KIS.

 

Hanya, yang menjadi kendala – ketersediaan Cellcept belum lah merata di semua RS (yang ikut program BPJS). Ini yang saya ingat dari pemaparan dokter RM Suryo K Wibowo, SPPD-KR saat di acara Germas mengenai sosialisasi penyakit tidak menular (PTM) autoimun bulan September 2017 yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan di Jakarta. Ada RS yang mengcover Cellcept dan ada yang tidak. Kurang paham bagaimana, sepertinya berkaitan dengan status atau tipe dari RS dan persyaratan-persyaratan tertentu.

 

RS Cipto Mangunkusumo mengcover Cellcept untuk pasien BPJS. Namun dengar-dengar sekarang dari kawan yang berobat di sana, Cellcept telah diganti dengan Myfortic. Sama ini, jenis imunosupresan non steroid juga. Disebutkan dalam Hellosehat.com bahwa fungsi dan penggunaannya adalah untuk mencegah penolakan sistem tubuh terhadap transplantasi organ baru seperti penolakan transplantasi organ ginjal. Obat ini biasa diberikan dengan siklosporin dan obat steroid. Yang menbedakan adalah kandungannya. Meski sama-sama mengandung jenis mycophenolate, pada Cellcept yang terkandung adalah mycophenolate mofetil. Sedangkan dalam Myfortic adalah mycophenolic Acid.

image.jpeg
Cellcept yang dibeli oleh Alm Satria dari teman odapusnya| Ist

Balik ke soal Satria, setelah menerima kiriman obat, terlintas beberapa nama kawan yang minum obat ini. Entah bagaimana kepikiran memberi kepada Satria. Oh ya, karena saya ingat dia pernah bertanya soal adakah yang menjual Cellcept murah. Terkadang memang ada kawan odapus yang menjual Cellcept murah. Mungkin karena tidak minum lagi atau mungkin karena mendekati tanggal kadaluwarsa. Bisa juga karena dapat menebus dari BPJS. Soal yang ini sebenarnya saya rada gimana gitu. Untuk obat-obatan yang didapat dari BPJS lalu tidak diminum lagi, kalau saya sih lebih memilih memberikannya gratis saja kepada yang membutuhkan, paling ganti ongkos kirim obat saja. Tetapi ya beda-beda pola pikir setiap individu. Mungkin ada yang dijual dan uangnya dipakai untuk beli obat lain lagi atau keperluan apalah. Hanya yang bersangkutan yang tahu. Cuma saya sempat nyinyir saat baca cerita kawan di grup odapus beberapa waktu lalu, yang katanya ada odapus menjual Cellcept-nya (didapat dari BPJS) lalu uang hasil penjualan digunakan untuk hura-hura. Astaga!.

 

Saya memilih cara pertama. Saya tanya Satria apa mau Cellcept dan katanya mau. Dia sempat bertanya berapa harganya. Saya jawab gratis, kamu ganti ongkir saja. Paket Cellcept sebanyak hampir 3 strip saya kirimkan Senin (7/1) dan pas Rabu (9/1) ia mengabarkan sudah menerima. Kalau membaca WA-nya, tampak Satria senang.

 

Jumat siangnya (11/1) tiba-tiba dia WA, namun dalam kondisi berbeda. Dia mengatakan sedang flare (menurut dokter Widya Eka Nugraha dalam materi Kulwap Grup LDHS, flare didefinisikan untuk kondisi relaps yang dirasakan berat oleh ODAI), terkena cacar air dan sedang radang tenggorokan disertai keluhan perut sakit, ulu hati sakit dan sesak nafas. Dia minta tolong saya untuk menanyakan obat kepada dokter Sugi – yang merupakan DPL kami bersama di RS Kramat 128.

 

Saya berusaha membantu sebisanya. Ketika di Sabtu pagi (12/1) masuk lagi WA darinya yang menanyakan nomor hp DPL. Dugaan saya yang memegang hp adalah keluarganya. Saya berikan nomor DPL dan lama tidak membuka WA setelah itu. Baru pukul 14-an mengecek WA dan mendapati kabar duka tersebut. Ada dua kawan yang mengabarkan. Jujur, saya kaget dan sedih walau sebenarnya sudah punya sedikit tanda-tanda ketika di hari Jumat almarhum mengirim WA ke saya dan sampai mengatakan “doain ya mbak”. Rasanya deg, begitu.

*

Sebenarnya saya dan Satria belum pernah bertemu fisik atau secara langsung. WA-pun terkadang saja. Pernah hampir bertemu di RS Kramat 128 bulan November 2018 – saat itu kami sama-sama rawat jalan di sana. Tetapi saya baru tahu kalau pas itu dia juga kontrol di sana setelah di WA olehnya. Satria sendiri berasal dari Lampung Utara, tepatnya di Kotabumi. Sedangkan saya di Bandar Lampung. Jauh jarak Bandar Lampung-Kotabumi, sekitar 5 jam perjalanan. Makanya wajar kalau tidak bisa atau susah bertemu. Memang di Lampung ada komunitas odapus dan sesekali mengadakan acara pertemuan, tetapi faktor jarak itu yang menjadi kendalanya di antara kami (para odapus). Sementara kondisi odapus kan tidak boleh terlalu lelah. Yang menautkan kami adalah kesamaan tempat berobat dan DPL yakni RS Kramat 128 dan dokter Sugi.

 

Yang saya tahu, almarhum telah lama ditangani oleh dokter Sugi dari sejak masih berpraktek di RS Thamrin, Salemba sampai dengan tidak lagi berpraktek di sana. Jadi kalau WA-an dengannya, kami suka ngobrolin DPL, sesekali dia bertanya jadwal praktek dokter Sugi di Kramat atau minta tolong ditanyakan obat. Kepo juga sebenarnya sih, ngapain kok ngerumpiin DPL sendiri, hihihi. Selain juga ngobrol mengenai lupusnya.

 

Terakhir yang saya ingat, soal protein urinnya. Satria sudah lama mengalami lupus nefritis. Mengutip kembali alodokter.com, dijelaskan lupus nefritis adalah peradangan pada ginjal yang terjadi akibat penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Lupus nefritis merupakan salah satu komplikasi paling serius dari penyakit lupus. Diperkirakan sekitar 60 persen pengidap lupus mengalami lupus nefritis. Kondisi ini akan mengganggu fungsi ginjal sebagai penyaring zat-zat buangan dalam tubuh. Akibatnya darah dan proteinakan gagal tersaring di ginjal dan dapat muncul dalam urine. Gangguan fungsi ginjal jangka panjang akan meningkatkan resiko terjadinya gagal ginjal. Kalau tak salah ingat, saya pernah membaca sebuah artikel, dimana narasumbernya ialah salah seorang Guru Besar Fakultas Kedokteran Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia, yang mengatakan bahwa lupus nefritis menyumbang 20 persen penyebab kematian pada pasien lupus.

 

Saat itu dia bilang protein urinnya telah +1 atau +2 deh. Saya sempat menyarankan dirinya untuk mencoba minum kefir. Baik kefir dari air (water kefir) atau susu kefir. Kalau susu kefir disarankan yang diminum whey-nya. Apa itu whey? Dalam blog salah satu penggiat kefir (neokefir.blogspot.com) dijelaskan whey adalah kefir bening yang terbentuk saat proses pembuatan kefir prima (fermentasi kedua dari susu kefir). Kefir bening merupakan minuman isotonik dengan kualitas super karena paling sesuai dengan cairan tubuh manusia dan hewan pada umumnya. Kefir ini bagus untuk penderita diabetes sekaligus berfungsi sebagai insulin dan juga digunakan sebagai bahan pembuatan asinan (sauerkraut) dan pengganti cuka dapur yang aman terhadap iritasi lambung.

 

Sedangkan dalam blog penggiat kefir lain (azetkefirindonesia.blogspot.com) menyebutkan bahwa kefir bening terbuat dari whey yang terbentuk pada saat proses pembuatan kefir. Mikroba yang ada di kefir menghasilkan asam dan enzim yang membuat susu terpisah jadi dua, curd (dadih) dan whey (cairan kuning bening). Sebagian besar protein dan lemak susu akan terdapat di curd, sedangkan di whey akan tersisa fraksi-fraksi larut air. Beberapa senyawa yang terbukti memiliki manfaat kesehatan akan terdapat di whey, sebab mereka larut air.

 

Tapi Satria tidak seberapa antusias dan saya juga tidak bisa memaksa. Toh itu hak dan pilihannya. Sedikit banyak, saya sempat kecewa sih karena ketidakmauannya untuk mencoba tadi. Tapi yah mau gimana lagi. Balik ke itu kan hak dan pilihannya. Di luar kekecewaan tersebut, saya dibuat cukup salut. Saya dengar cerita dari teman, Mbak Dian Prameswary, odapus dari Bengkulu yang mengenalnya bahwa dulu almarhum berjualan di kantin sekolah. “Saya tanya nggak kuliah, katanya enggak. Awal kenal, dia bilang dia jualan di kantin sekolah. Saya bilang jangan terlalu capek. Terakhir ini dia cerita jualan es”, kata Mbak Dian menuturkan cerita via WA kepada saya. Soal jualan ini saya pun ingat, pernah di dalam grup ada kawan odapus satu kampung dengan almarhum yang memanggilnya juragan oden. Pasalnya saat itu almarhum berjualan sate oden untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan mengajar ngaji. Terakhir (masih) kata Mbak Dian almarhum berjualan es untuk biaya sehari-harinya. Yang saya tahu, almarhum masih tinggal bersama orangtuanya dan baru-baru ini saya mendapat informasi bahwa ayahanda Satria telah tiada sejak lama. Kata kawan yang saya tanya, Satria merupakan anak bungsu dan telah ditinggal ayahandanya sejak usia 3 bulan. Jelas yang telah dilakukannya menunjukkan bahwa ia kepingin mandiri, tak ingin membebani ortunya, terkhusus ibunda tercinta.

 

Saya yakin tentu tak mudah dengan kondisi yang ada dan status yang disandang “odapus”. Belum lagi, Satria pernah bercerita bahwa ia memiliki masalah di kakinya. Katanya sakit kalau berjalan dan berdiri sehingga agak menyiksa baginya kalau harus banyak berjalan dan lama berdiri. Tentang hal ini dia pernah bercerita, disinisin saat menumpang bus umum. Ia duduk di kursi penumpang, lalu bersamaan naik seorang penumpang bapak-bapak tua. Idealnya sih penumpang muda memberi kursi kepada penumpang lebih tua. Namun Satria tidak melakukannya, pasalnya kakinya sedang sakit. Karena itulah dia disinisin oleh penumpang satu bus. Seandainya waktu itu para penumpang tersebut mengetahui kondisi almarhum….

 

Saya menghela nafas. Saya tak tahu harus berkata apa lagi. Sedih, itu yang saya rasakan. Meskipun demikian saya senang karena almarhum adalah seorang yang baik (di mata orang-orang yang mengenalnya). Saya diceritakan oleh Mbak Asna, Kawan odapus yang juga dari Kotabumi bahwa ibu almarhum pernah bertanya kepada anaknya kenapa kok membeli Cellcept banyak sekali dan dijawab oleh Satria begini, “Ya bu.. nggak apa-apa. Mungkin teman lagi butuh uang”. Jawaban tersebut telah cukup menunjukkan kebaikan hatinya dan saya bersyukur bisa mengenalnya. Bersyukur pula bisa membantunya di saat-saat terakhir walau tak banyak. Saya menyakini sudah takdir. Tuhan yang mengatur semuanya. Semoga tabah dan ikhlas keluarga yang ditinggalkan. Satria, kamu telah “legowo” menerima statusmu sebagai odapus dan “legowo” menuju ke tempat lain. Selamat jalan, teman – Almarhum M Satria Legowo. Doa terbaik saya untukmu, ditempatkan di sisi-nya. Husnul Khotimah kalau menurut agamamu. Amin. (Salemba Tengah, 13 Januari 2019).

 

 

2 thoughts on “Satria yang Telah “Legowo” (Sebuah Orbituari)

  1. Turut berduka cita karin.. semangat sehat utk karin dan kita. Teruslah berbuat hal2 yg menyenangkan hatiNya atas kehidupan yg msh Tuhan berikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *