Pisgor Madu Bu Nanik, Legitnya Selalu di Hati

IMG_1668
Keramaian di depan Pisgor Bu Nanik di Tanjung Duren, Jakarta Barat. Ramai oleh pembeli langsung, Go Food dan Grab Food (Minggu, 3 Maret 2018).|Karina Lin

Kamu main ke tempatku saja, nanti aku anterin ke tempat Bu Nanik pakai bajaj. Dekat kok dari rumahku. Begitu kata Ci Wani, kawanku membalas WA dari saya, beberapa waktu lalu. Saat itu saya bilang penasaran dengan Pisang Goreng Madu Bu Nanik dan kepingin banget mencicipinya. Oya pisang goreng madu ala Bu Nanik ini penganan pisang goreng tapi beda dengan pisang goreng biasa. Perbedaan mulai dari bentuk, pisang yang digunakan hingga komposisi bahan. Jika lazimnya pisang goreng dipotong berbentuk kipas atau memanjang, tidak dengan pisang goreng (pisgor) yang ini. Tampilannya berbentuk lingkaran berdiameter 10 sentimeter lah, pipih, mirip-mirip dengan bakwan. Tapi yang ini rapih bentuk lingkarannya. Sepertinya saat digoreng, adonan menggunakan cetakan. Saya hanya mengira-ngira lantaran tidak sempat melihat proses pembuatannya. Buah pisangnya dipotong-potong dan dicampur dengan adonan lalu digoreng. Nah makin mirip kan dengan bakwan? Bakwan pisang.

 

Pisang yang digunakannya pun pisang raja, bukan pisang kepok atau jantan dan penggunaan kata madu, bukanlah embel-embel untuk penglaris semata. Tapi memang benar menggunakan madu.

 

Dari yang saya baca mengenai awal mula Bu Nanik membuka usaha pisgornya, bermula dari ketidaksengajaan. Dikutip dari kompas.com, dikisahkan begini: Bu Nanik yang punya nama asli Nanik Soelistiowati mengawali usahanya dengan membuka usaha katering tahun 1994.

 

“Saat itu, katering saya yang namanya Nanik katering memberi makan siang bagi karyawan hotel di Dharmawangsa, Harris, Parklane, Alila, Ciputra, Ibis (menyiapkan makan siang untuk) sekitar 1200-2000 orang setiap harinya,” Kata Nanik.

 

Di dalam paket makan siang, disertakan buah-buahan seperti kelengkeng, pisang, nanas dan lainnya. Saat itu, ia sering membuang pisang karena kondisinya tidak bagus. Karena merasa sayang dibuang, akhirnya Nanik menggoreng pisang yang dianggap tidak bagus tadi.

 

Nanik menggoreng pisang menggunakan tepung, garam dan gula. Namun, sang ibu meminta Nanik tidak menggunakan gula lagi karena penyakit diabetes yang dideritanya. Akhirnya gula tadi diganti madu karena setiap pagi dirinya kebiasaan minum lemon dicampur madu.

 

Awalnya dia menggoreng pisang untuk dikonsumsi keluarganya sendiri. Kemudian, dia mencoba memberi pisang goreng madu itu ke dalam menu makan siang karyawan hotel.

 

Awalnya lagi, banyak karyawan hotel yang meminta dirinya tidak menyajikan pisang goreng madu lagi. Mereka menyebut pisang goreng madu itu dengan sebutan pisang goreng gosong karena warnanya hitam.

 

Nanik menjelaskan, warna hitam karena proses karamelisasi dari campuran madu. “Kami kasih di hotel, Mercure Rekso. Eh kok terus waktu itu ada karyawan hotel yang bilang ke saya, ‘Bu, istri saya suka pisang gosongnya, mau pesan untuk pengajian.’ Saya bilang, ‘pisang gorengnya tidak dijual, hanya untuk konsumsi katering.’ Eh dia tetap mau pesan pisang goreng gosong 30 biji,” kisahnya.

 

Lama kelamaan, berkat marketing dari mulut ke mulut, jumlah pemesan pisang gorengnya makin banyak. Baru di tahun 2014, Nanik memutuskan full di usaha pisang goreng madu. Sementara usaha kateringnya diputuskan untuk ditutup.

 

Ramainya Luar Biasa

Akhirnya saat itu tiba. Pada Minggu, 4 Maret 2018 saya kesampaian mencoba pisgor Madu Bu Nanik. Dari Salemba Tengah, saya menumpang Trans Jakarta menuju ke Perumahan Sunrise Garden (Rute Lebak Bulus). Turun di Halte Busway Kedoya Ashidiqdiyah, saya dijemput oleh Ci Wani. Kami tak langsung ke Pisgor Madu Bu Nanik ya. Mampir dan istirahat dulu di rumahnya Ci Wani. Cuaca Minggu siang itu cukup terik kalau bagi saya. Baru sekitar pukul 13an, kami berwisata kuliner di sekitar Sunrise Garden.

 

Kami mencicipi masakan vegetarian Ai Sin. Saya pesan nasi campur pakai capcay, kering kentang, babi merah dan satu lagi saya nggak tahu namanya (hanya tahu makannya). Ups, biar namanya babi merah tapi bukan terbuat dari babi sungguhan loh. Kan ini vegetarian. Jadi merupakan daging imitasi yang diolah menyerupai lauk babi vegetarian, daging-dagingannya bisa dibuat dari gluten, kaki jamur atau tepung kedelai. Hidangan vegetarian di sini semuanya diolah tanpa menggunakan bawang.

 

Sementara Ci Wani memesan mie goreng pek cah vegetarian. Mie gorengnya lurus dan merupakan mie basah, isinya telur yang diorek, irisan sawi dan toge. Mirip kayak mie goreng biasa deh. Saya mencicipi sedikit tanpa toge. Saya pantang makan toge semenjak pernah mengalami badan sakit sehabis makan toge.

 

Dari Ai Sin, kami lanjut ke Milan. Jangan salah, ini bukan restoran yang menyajikan menu masakan Italia loh. Sebaliknya menyajikan menu Indonesia khas bangka bercampur palembang. Menempati salah satu ruko di Green Ville. Saat kami tiba di sana, konsumennya hanya dua orang. Jadi asyik karena tidak ramai. Kami memilih tempat makan yang berada di dekat meja meracik es dan dekat AC. Saya kepanasan siang itu, makanya sengaja pilih tempat duduk yang dekat AC supaya bisa ngadem.

 

Sebenarnya kami ke situ bermaksud pesan lakso Bangka. Makanan ini kayak burgo ala Palembang, bedanya kuah ikan bersantannya ditambahi kunyit sehingga warnanya menjadi kuning dan burgo dari tepung berasnya dicetak seperti spageti dengan ukuran lebih besar. Sayangnya habis. Mungkin karena sudah sore yah. Alhasil kami ganti pesan es kacang merah saja. Ci Wani pesan dua potong pempek telur rebus.

 

Satu porsi es kacang merah ternyata buanyak sekali. Saya yang makan dibantu Ci Wani saja masih tetap tidak habis. Mungkin juga karena sebelumnya makan es, kami sudah makan macam-macam. Selain makan nasi sayur vegetarian dan mencicip mie goreng, sebelumnya di rumah Ci Wani saya sudah makan seporsi tekwan. Jadilah pas makan es kacang, sudah nggak masuk banyak ke perut. Es kacangnya sisa.

 

Es kacangnya menurut ukuran saya enak hanya isiannya kurang variasi, misalnya bisa ditambahi serutan daging kelapa muda, potongan cincau hitam atau kolang kaling-lah. Soalnya menguyah kacang merah saja, cukup capek di mulut. Untuk pempek rebusnya, saya coba sepotong. Biasa saja dan kulitnya ada bagian yang keras karena kering kena angin.

 

Dari sini baru deh kami meluncur ke tempat Pisgor Madu Bu Nanik di Tanjung Duren. Selepas turun dari angkot, toko Pisgor Madu Bu Nanik sudah mencolok mata. Tampilan lokasi dagangnya sih biasa saja. Tapi keramaiannya itu, luar biasa. Setibanya disana, saya langsung membaur dengan keramaian para pembeli. Untuk ukuran sebuah tempat usaha yang laris manis, menurut saya Pisgor Madu Bu Nanik tergolong sederhana. Itu ruko yang sepertinya dua pintu dijadikan satu. Pada satu ruko ada etalase kaca yang berisi berbagai jualan gorengannya. Ada pisgor madu, ubi madu, cempedak madu, nangka madu, ote-ote (bakwan yang ada udangnya). Disebelah etalase ada meja kasir dan dibelakang etalase merupakan dapur yang digunakan untuk menggoreng pisgor.

 

Sedangkan di ruko satu lagi terdapat rak-rak yang memajang berbagai camilan, ada sambal Bu Rudy yang khas Jawa Timur dan top itu, keripik pisang Lampung, ubi kremes, mie lidi, snack basah dan lain-lain. Di dekat rak ada meja kasirnya.

IMG_1672
Penampakan Pisang Goreng Madu ala Bu Nanik | Foto: Karina Lin

 

Oya, untuk membelinya – berhubung ramai – maka kita harus sabar karena antri. Saat tiba disana, saya icip-icip dulu produk gorengan yang dijual. Iya, kita bisa mencicipi pisgor madunya dan gorengan lainnya. Bu Nanik menyediakan tester produknya di sebuah meja dekat etalase gorengan dan meja tempat kita memesan makanan. Saya nyobain pisgornya dan ubi goreng madunya dan langsung suka. Akhirnya pesan tiga potong pisgor dan dua potong ubi goreng, dibungkus. Harga gorengannya Rp5ribu per potong. Sedikit tambahan, semua produk yang dijual di Pisgor Madu Bu Nanik ini dikenai pajak ya. Jadi pas membayar makanan yang kita beli plus harga pajak.

 

Nanti pesanan kita dimasukkan ke mesin orderan yang ada di sebelah etalase gorengan. Habis itu kita harus membayar di kasir (pakai antri loh). Kalau sudah bayar, kita bisa menunggu orderan kita disiapkan atau bisa langsung kembali ke meja orderan dan ambil pesanan kita.

 

Saat sore itu saya kesana, selain para pembeli langsung – juga terlihat banyak driver gojek dan grab. Artinya para konsumen juga banyak yang memesan pisgor melalui fitur Go Food atau Grab Food.

 

Bu Nanik yang Cantik dan Energik

IMG_1659
Ci Wani (ujung kiri), Bu Nanik, dan Karin (penulis)| Foto: Karina Lin

Katakanlah saya hoki alias beruntung karena bisa bisa bertemu Bu Nanik selaku si pemilik bahkan diajak foto bareng dengannya. Bahkan tanpa diduga. Tapi kalau diingat ulang, ceritanya lucu juga ya. Saat itu setelah meng-order pisgor, saya mengeluarkan hp dan bermaksud hendak memotret suasana di tempat usaha tersebut. Saya mau memotret etalase pisgornya. Belum lagi mengambil foto, keluar seorang wanita paruh baya. Ia menggenakan kebaya berwarna hijau lime, rambutnya tergerai panjang ditata sedemikian rupa dan disisip bunga putih dirambut belakangnya. Entah bunga apa, pokoknya bunga yang biasa disisip di telinga pada perempuan-perempuan Bali yang cantik-cantik itu.

 

Wajahnya bermake up, cantik dan gerak geriknya energik. Tangan kirinya memegang kipas. Ketika itu dia berbicara dengan seorang tukang parkir. Kayaknya minta mobil-mobil yang parkir di depan Pisgor Madu Bu Nanik, diatur rapi. Saat jeda memberi instruksi, saya hampiri dan bertanya; ibu adalah Bu Nanik ya? Yang punya pisang goreng ini? Dijawabnya iya dan dia menyambung tanya; bukan orang sini ya?

 

Saya bilang bukan, saya dari Lampung dan sedang di Jakarta karena suatu keperluan. Entah karena mendengar jawaban saya atau apa, tiba-tiba Bu Nanik menarik tangan saya. “Sini, sini,’ katanya. Diraihnya hp yang saya pegang dan segera diberikan ke anak buahnya yang bertugas di meja pesanan. Bu Nanik mengajak saya berdiri di depan dinding yang ada tulisan brand besar Pisang Goreng Bu Nanik. Belum sempat berfoto, Ci Wani beres membayar pesanan dan muncul tak jauh dari tempat saya dan Bu Nanik berdiri. Melihat Ci Wani, segeralah saya memanggilnya. Bu Nanik yang melihat lalu segera mengajak juga Ci Wani untuk foto bareng.

 

Ada beberapa kali anak buah Bu Nanik mengambil foto kami bertiga. Bu Nanik saat take pertama mengacungkan jempolnya. Setelah dua kali take, ia berjalan cepat ke sebuah rak, meraih kardus pisang goreng yang ada logo Pisang Goreng Bu Nanik. Kardus itu dipegangnya lalu si anak buah kembali mengambil foto.

 

Setelah selesai, ia berpamitan untuk urusan lain. Saya dan Ci Wani mengucap terima kasih. Habis itu kami terlibat pembicaraan begini. “Kamu kenal sama Bu Nanik ya?” Tanya Ci Wani. “Hah? Enggak kok ci. Baru tahu justru. Cici kenal ya?” Saya balik bertanya.

 

“Lha enggak tuh,” Jawabnya. “Hah? Aku kira cici kenal karena tadi pas diajak foto sama dia, cici lambai-lambai. Lagian juga cici kan tinggalnya dekat sini,” Jelasku.

 

“Aih enggak lah. Justru aku pikir kamu yang kenal,” kilahnya. “Aku juga nggak kenal ci. Tahu-tahu tadi aku ditarik aja tangannya buat foto,” kataku bingung. Saat perjalanan pulang dalam bajaj, kami masih membahas hal ini dan terhindarkan jadi bingung dan lucu kalau mengingatnya. Padahal tadi maksud saya memanggil si Ibu Nanik adalah sekedar menyapa dan hendak sedikit bertanya. Lha ini tiba-tiba main ditarik saja tangan saya buat foto. Ada-ada saja si ibu Nanik. (Salemba Tengah-Jakarta, 5 Maret 2018).

 

2 thoughts on “Pisgor Madu Bu Nanik, Legitnya Selalu di Hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *