Nyoblos di Pulau Rantau, Ribet Tapi Lega

Klingking Fun Ungu usai mencoblos | Pribadi

Sebuah nomor menghubungi hape saya. Sejenak melihat, saya sudah tahu siapa. Pasti pak ojol! Iya, soalnya saya memesan sih. Tujuannya dari tempat kost ke TPS tempat mencoblos. Saya angkat dan benar dugaan tersebut. Pak ojol yang bernama Isak Iskandar itu menginformasikan posisinya masih di RSCM. “Halo, bu. Ini saya Gojek. Saya di Cipto, Bu. Gimana, mau nunggu?” tanyanya.

 

Lekas saya menjawab, “Iya pak. Tak apa pak, saya tunggu ya. Oiya pak, nanti mau ke Salemba lewat mana? Soalnya kalau lewat Salemba Bluntas, ada banyak TPS”. Sedikit menginformasikan kepadanya mengenai kondisi jalan menuju kost saya pada hari ini. Lantaran Pemilu nasional, maka sepanjang jalan kost an saya ditutup sehari ini, Rabu (17/4). Sepanjang jalan berganti pemandangan tarup-tarup putih yang digunakan sebagai TPS Pemilu. Ada lima TPS di sepanjang jalan yang melewati kost an saya di Salemba.

 

Jadi memang akhirnya saya menunggu si pak ojol. Saat sudah di depan kost, masuk lagi telpon darinya yang menanyakan alamat saya itu dimana tepatnya. Hiks, ini loh yang kerap membuat saya sedih. Wong ojol kok buta alamat? Kan ada toh GPS di aplikasi mereka dan jelas itu dibekali oleh e-commerce tempat mereka bergabung untuk digunakan sebagai penunjuk jalan kala menjemput atau mengantar penumpang. Atau minimal, pelajarilah rute sekitar tempat menarik ojolnya. Bukankah saya pesan ojol karena buta alamat dan justru mengandalkan si babang ojol? Ini kok jadi kebalik?

 

Akhirnya saya jelaskan panjang lebar rute yang harus ditempuhnya untuk sampai ke tempat saya. Tapi rada kesal karena sudah dijelaskan lengkap, eh ojolnya kok ora mudeng. Kira-kira perlu tiga kali saya menjelaskannya di percakapan telepon. Ketika mematikan telepon, sempat terlintas. Hal begini ini loh yang lebih saya khawatirkan daripada mungkin kehabisan surat suara. Maksudnya kita gagal atau kelamaan sampai di alamat TPS tujuan hanya karena ojol yang kita pesan ora mudeng atau lelet. Kelamaan menjemput jelas menghabiskan waktu.

 

Lagi mikir-mikir begitu, masuk lagi telepon dari pak ojol. Katanya dia sudah di Jalan Salemba Tengah, dia nanya dimana lokasi saya tepatnya. Terus dia bilang kalau nggak jauh dari situ ada TPS sehingga nggak bisa lewat. Oh iya saya ingat, tak jauh dari jalan masuk menuju kost saya memang ada satu TPS. Ketimbang menunggu pak ojol mutar jauh lagi dan bukan jaminan dia paham rute, saya ambil inisiatif untuk berjalan ke Salemba Tengah saja. Saya suruh pak ojol tunggu di sana.

 

Beres? Tidak juga, karena saya bingung dimana tepatnya lokasi TPS saya mencoblos. Dalam form A5 yang diberikan oleh KPU Jakarta Pusat, tertulis TPS 21 kelurahan Paseban. Pas hari Senin (15/4) lalu sore saya sempatkan berkunjung ke rumah pak RT dan menanyakan lokasi TPS. Alamatnya gitu loh dimana. Setelah mengecek daftar TPS, didapat kalau TPS 21 itu berlokasi di Kramat Sawah. Tapi Kramat Sawah berapa yaaa? Jadi kebingungan baru ini mah. Pak RT juga nggak paham, dia hanya memberikan secarik kertas bertuliskan nama ketua PPS di TPS 21 Wanda Mardyanto. Surat dari Pak RT saya simpan dan saya bawa pas hari H pencoblosan. Ya buat jaga-jaga saja siapa tahu lupa nama ketua PPS TPS 21 tempat mencoblos.

 

Setelah melewati Taman Mentjos menuju ke Jalan Percetakan Negara dan melewati rel kereta, tiba-tiba pak ojol menepikan motornya dan bertanya kepada dua orang bapak yang sedang menunggu angkot. “Kramat Sawah dimana ya pak?” tanyanya. Jelas kedua orang ini warga sekitar situ karena paham soal alamat yang ditanyakan. Keduanya saling menjelaskan kalau Jalan Kramat Sawah itu di sana (menunjuk sisi kiri dari posisi ojol). Artinya kami kelewatan. Harusnya masuk lewat jalan yang sisi sebelum rel kalau dari arah Mentjos. Jadilah pak ojol memutar motornya menuju ke jalan yang tadi dilewati, juga sesuai petunjuk kedua bapak tadi.

 

Pas memasuki jalan, saya berinisiatif menanyakan kepada seorang bapak petugas keamanan yang sedang sibuk mengatur parkir. Sedikit berteriak dari motor, saya tanya lokasi TPS 21 di Kramat Sawah 12. Eh kok bisa nyebut Kramat Sawah 12? Iya, soalnya di catatan dari Pak RT selain tertulis nama Wanda itu juga ada tulisan Kramat Sawah 12. Bapak petugas itu menunjukkan arah lebih dalam masuk dari posisi kami. Katanya diujung sana. Lah terus gimana ke sananya? Kan tak jauh dari posisi kami ada TPS (entah TPS berapa, puyeng saya. Banyak banget TPS di sini). Ia menyarankan untuk memutar lewat jalan satu lagi. Itu loh jalan sisi sesudah rel. Ah berarti itu jalan tempat kami tadi bertanya kepada kedua bapak yang sedang menunggu angkot. Jadilah pak ojol putar balik.

 

Hiks, pusing ya mencari lokasi TPS 21. Sepanjang dibonceng itu, saya merasa kok keadaan seperti ini mirip ketika Idul Fitri saja. Harus mutar sana-sini mencari jalan alternatif yang bisa dilewati. Pasalnya saat Idul Fitri, umat muslim kan menunaikan Salat Ied dan terkadang daya tampung masjid kurang sehingga perlu opsi lain. Semisal jalan yang ditutup sementara guna menunaikan Salat Ied bersama. Belum lagi lalu lintas kendaraan yang berkurang. Namun kalau yang ini kan momennya Pemilu, mutar-mutar mencari jalan alternatif karena jalannya kebanyakan dipakai menjadi TPS kilat untuk pesta demokrasi.

 

Sesampai di ujung persimpangan, pak ojol membelokkan motornya ke kiri lalu ke kiri lagi. Melewati jembatan kali, terlihat satu TPS yang saya pikir TPS 21. Ternyata bukan. Itu TPS 71. Akhirnya saya turun dari ojol, jalan kucluk-kucluk. Cuek saja deh walau banyak yang ngeliatin. Saya datangi seorang petugas pendaftaran di TPS tersebut dan bertanya dimana TPS 21. Dijawab plus diarahkan olehnya bahwa tak jauh dari sini. “TPS 21 di pinggir kali. Lurus aja ikutin kali ini” terang si putugas.

 

Saya lekas-lekas kembali ke ojol dan bilang ke arah kali lurus saja. Sampai akhirnya bertemu dengan TPS 24 tak jauh dari jembatan kuning kali. Turun di situ, saya pun berjalan. Agak bingung, karena kok TPS-nya banyak banget. Tepatnya sih jaraknya dekat banget. Bayangkan saja sepanjang Jalan Kramat Sawah 13 (nama jalannya baru saya ketahui belakangan, setelah mencoblos. Jadi bukan Jalan Kramat Sawah 12) ada 8 TPS yakni TPS 17-24. TPS-TPS tadi berupa tarup dan antara TPS satu dan lainnya hanya berjarak sekira 5 meter. Beneran baru kali ini loh saya ketemu TPS yang begitu banyak dan dekat di satu jalan. Kalau kita terus maka Jalan Kramat Sawah 13 ini akan berujung pada Jalan (besar) Kramat Raya.

 

Kucluk-kucluk saya jalan sambil keringat meleleh. Sudahlah cuek saja. Yang sudah terpikir diubun-ubun adalah pengen segera mencoblos dan membereskan semua ini. Jujur, Pemilu ini rada bikin stres buat saya. Baca media online isinya ya pemilu semua, khususnya pilpres. Timses paslon 1 dan paslon 2 yang saling berbalas pernyataan atau parpol koalisi yang pasang badan menjadi bemper menangkis serangan tim lawan. Eh, kalau dipikir-pikir ini wajar ya. Kan sedang masa-masa jelang pemilu. Oh, yang menjadikan stres sudah baca media online isinya pilpres semua, masih ditambah di WAG pun begitu. Kalau Wag-nya memang khusus politik, okelah. Masalahnya ketika itu bukan WAG politik lalu tiba-tiba alih fungsi jadi WAG politik. Isi postingan anggota WAG itu semua dan yang membuat jengkel tema postingan menjelekkan salah satu paslon. Bahasa kekinian-nya buzzer. Mau berpihak kepada salah satu paslon ya silakan tapi nggak usahlah sampai segitunya. Saya selalu berprinsip bahwa soal pilih memilih ini adalah hak asasi dan berdasarkan hati nurani pribadi. Sungguh jadi beban batin bagi saya. Mau keluar grup kok gimana, tidak keluar grup kok gimana. Aduh, stres mak pala awak.

 

Kembali ke TPS, akhirnya sampai juga saya di TPS 21. Seorang bapak PPS segera menghampiri (belakangan saya ketahui namanya Pak Yono, usianya sekitar 50 tahun ke atas) dan langsung saya serahkan form A5 dan KTP kepadanya. Ia meneruskan ke petugas pendaftaran TPS yang standby. Tapi dari situ, surat dan KTP saya dioper ke bapak yang duduk di tengah. Sebagai gambaran dalam satu TPS, yang bertugas mengurusi administrasi berkas daftar pemilih ada 5 orang. Ada yang bertugas mencatat nama pemilih, memverifikasi data pemilih dan menyerahkan surat suara untuk dicoblos. Bapak yang duduk di tengah itu rupanya Ketua PPS TPS 21, Wanda Mardyanto. Oooh, ini toh orangnya. Saya dipersilakan duduk sementara Pak Wanda bersama seorang rekannya sibuk berdiskusi soal form A5 dan KTP yang saya serahkan. Terlihat ia menghubungi entah siapa melalui hapenya. Lalu ia melihat selembar kertas. Saya yang duduk sih santai tapi ya gimana jugalah. Waktu itu yang kepikir kalau memang nggak bisa ya sudah. Pasrah.

 

Tak lama saya dipanggil Pak Wanda. Sambil memegang form A5 dan KTP saya, ia memberitahu bahwa saya harus ke kantor Kelurahan Paseban. Lho ngapain? Saya pikir disuruh nyoblos pindah ke sana. Bukan. Saya diharuskan meminta acc dari PPS di kelurahan dan setelah dapat, kembali lagi ke sini dan baru bisa mencoblos. Lho kok begitu?

 

“Iya, soalnya nama ibu tidak tercantum dalam daftar DPT Tambahan. Jadi perlu acc dari kelurahan. Terus ke sini lagi”, terangnya sambil memperlihatkan lembar DPTb di TPS 21. Saya sempat menyampaikan bahwa orang KPU Jakarta Pusat yang di Pejambon hanya berpesan supaya membawa dan menunjukkan form A5 dan KTP di TPS tempat memilih dan baru boleh memilih setelah pukul 12 siang. Tapi kita tahu kan peraturan memilih setelah pukul 12 siang untuk DPTb digugurkan sehingga bisa memilih mulai pukul 7-13 siang sama seperti DPT. Soal informasi ini, baru saya ketahui dua hari sebelum hari H dan berucap syukur alhamdulillah puji Tuhan. Pasalnya saya sedikit diringankan dari teriknya cuaca panas.

 

Berstatus sebagai orang dengan lupus (odapus), panas matahari menjadi momok bagi saya. Memang tadi pagi sebelum berangkat telah saya oleskan tipis-tipis suncreen di wajah. Tapi ya, nggak usah cari perkara alias nantang. Kalau lupusnya kambuh, ntar sengsara sendiri. Sinar matahari merupakan musuh bagi odapus. Terutama sinar UVB-nya. Terpapar olehnya bisa menimbulkan rash merah dan flare (kambuh) lho.

 

Mata saya menelusuri lembar DPTb yang diperlihatkan. Ada 9 nama tercetak di situ dan benar, tak ada nama saya. Haduuuh, jadi ribet deh. Ya sudah, saya ikuti saja arahan dari Ketua PPS nya untuk ke kantor kelurahan Paseban. “Pak, kantor kelurahan jauh nggak dari sini?” tanya saya ke Pak Wanda. Iyalah mikir juga. Kalau jauh jelas waktu, energi juga uang terkuras. Baru ingat kalau saldo Gopay saya hanya sisa 16 ribu. Tadi dari kost ke Kramat Sawah kena biaya gojeknya 12 ribu. Muahal karena kalau hari-hari biasa paling juga 8 ribu. Penyebab lonjakan harga pastilah karena banyak bang ojol yang libur eh meliburkan diri sementara permintaan banyak. Hukum ekonomi jelas berlaku.

 

Pak Yono yang menjawab. Jujur, saya nggak tahu jalannya karena baru pertama kali ke sini. Si bapak baik banget, dia inisiatif mengantarkan dan pas saya sedang duduk-duduk selasai mencoblos, kebetulan dia melihat saya. Lalu ia tanya apa bisa acc tadi dan mencoblos? Saya jawab bisa dan sudah. Awalnya dia tanya kalau jalan kaki ke kantor keluharan mau nggak? Saya jawab boleh, tak apa. Tapi kemudian dia menghampiri beberapa orang tetangganya yang sedang berkumpul tak jauh dari TPS 21 dan memintakan kepada seorang di antara mereka untuk mengantarkan saya ke kantor kelurahan. Singkatnya saya diantarkan PP ke dan dari kantor kelurahan. Bersyukur juga proses meminta acc dari PPS kelurahan tak lama, cukup distempel dan ditandatangani oleh seorang PPS-nya. Jalan yang harus dilewati menuju ke kantor kelurahan dan sebaliknya harus melewati gang-gang yang berliku-liku. Entah berapa kali perlu berbelok. Tapi yang penting sampai dan bisa mencoblos.

 

Sebenarnya ada sedikit pertanyaan terkait nama saya yang tak tercantum di lembar DPTb TPS 21. Kok bisa ya tak tercantum? Bingung. Apakah karena saya mengurusnya pas di hari terakhir? Semenjak bulan Maret pertengahan, sejatinya saya dilanda kebingungan hendak mencoblos di mana. Tadinya saya telah berencana untuk mudik ke Bandar Lampung demi urusan coblosan ini. Setelah ditimbang ulang, saya batalkan. Faktor kondisi tubuh yang kurang sehat. Kena batuk pilek, anemia dan sebelah kaki sakit yang timbul hilang. Jalan dari kost ke Alfamart PP saja saya sudah ngos-ngosan. Jadi sudahlah, tak usah nambah-nambahin menyengsarakan diri. Bukannya saya tak peduli dengan bangsa sendiri dan tugas negara. Masalahnya saya ini kan “sendiri” dan sedang sakit bahkan alasan saya di Jakarta pun untuk berobat alias rawat jalan. Seandainya jatuh sakit yang dalam, siapa coba yang mengurusi saya? Bingung kan? Susah kan? Malah jadi ribet. Jadi saya perlu sadar dan sayang diri sendiri untuk kesehatan.

 

Iseng saya mengobrol melalui WA dengan teman yang ketua RT di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebagai ketua RT, yakinlah bahwa pasti dia lebih melek seputar per-DPT-an dan per-TPS-an. Saya tanya apa sekarang masih bisa pindah TPS. Saat bertanya itu sudah awal bulan April 2019 dan dijawabnya bisa kalau memenuhi salah satu kriteria ini; sakit, tertimpa bencana, menjadi tahanan dan sedang menjalani tugas. Ia membagikan link informasinya. Saya ndak baca sih. Malas saja, kebiasaan buruk nih.

 

Ya sudah, pokoknya saya akan coba mendatangi Ketua RT dekat kost. Baru kesampaian pas tanggal 5 April 2019, sudah semakin mepet dengan tanggal pencoblosan. Iya, saya masih sakit saat itu makanya cukup banyak urusan dipending. Ketua RT mengatakan tidak bisa dan menyarakan untuk ke kelurahan. Senin (8/4) baru saya ke sana dan bertanya ke PPS-nya, diminta form A5 dari daerah asal saya. Waduh, nggak ada dan kalau dikirim pun apa keburu ya. “Kalau nggak ada itu, nggak bisa bu. Kalau nggak ibu langsung ke KPU kota saja di Pejambon”, infonya.

 

Katanya sih kalau di KPU Kota Jakarta Pusat tak perlu form A5 daerah asal. Saya manut. Pukul 10 pagi saya berangkat ke sana dan alamak, antrian yang mengurus form A5 ini sudah mengular sampai depan pintu pagar keluar masuk kantor KPU. Tapi akhirnya saya bisa juga ketemu petugasnya dan setelah menjelaskan kondisi, olehnya saya diminta untuk membuat surat keterangan sakit dari dokter atau rumah sakit tempat saya dirawat. Surat itu nantinya dibawa dan ditunjukkan ke KPU bersama fotokopi kartu keluarga dan KTP.

 

Ya wes-lah, buru-buru saya menuju ke RS Kramat 128 guna menguber dokter yang merawat. Hari ini saya tahu dia ada jadwal praktek mulai jam 10 pagi. Semoga masih belum selesai. Rasa-rasanya saya jadi bernostalgia semasa dulu masih bekerja menjadi jurnalis. Buru-buru untuk mengejar narasumber, buru-buru saya bisa menghadiri event yang harus diliput. Aaah. Untung dokter saya masih ada. Lekaslah saya menuju ke lantai dua dan menunggu depan ruang prakteknya.

 

Pas suster keluar sejenak untuk memanggil pasien, saya sampaikan kepadanya kalau minta waktu bertemu dokter untuk minta tolong dibuatkan surat keterangan sakit. Kata suster bisa tapi saya harus menunggu sampai pasien yang terakhir. Oke deh, tak masalah. Sekitar pukul 12an baru saya bisa masuk bertemu dokter dan dia agak kaget. Ngapain saya tiba-tiba muncul dan setelah saya menyapa plus kasih senyum sedikit langsung saya jelaskan maksud dan tujuannya. Minta tolong dibuatkan surat keterangan sakit untuk pindah TPS nyoblos pas pemilu.

 

Bersama Form A5 yang sudah jadi di kantor KPU Jakarta Pusat, Rabu (10/4) | Dok Pribadi

Pokoknya akhirnya saya dibuatkan surat keterangan sakit. Setelah jadi (bahagia rasanya), tidak langsung kembali ke KPU untuk menyerahkannya. Baru terasa capeknya dan laparnya. Besoknya, Rabu (10/4) saya baru ke KPU lagi. Sama seperti kemarinnya (Selasa, 9/4) tetap terjadi antrian mengurus form A5. Bedanya tak seheboh kemarin. Saya sendiri sudah masuk antrian, lalu ada seorang mas-mas yang ikut antri menyarankan saya untuk mencoba langsung menyerahkan berkas-berkas syarat mengurus form A5 langsung ke seorang petugas yang berdiri depan pintu masuk gedung KPU. Bapak ini namanya Sukirno, memakai baju safari cokelat tua. Usianya entahlah berapa, mungkin juga 50 tahunan. Kok saya jadi kepo sendiri.

 

Mas itu mungkin melihat kop amplop yang saya bawa berlogo rumah sakit di ujung atas kirinya dan fisik saya yang ketika berjalan rada gimana gitu. Iya benar, kaki saya memang masih sakit. Kaki kanannya kalau dibawa jalan entah kenapa sakit. Sekarang sih agak mendingan. Minggu-minggu sebelumnya, luar biasa sakit yang terasa sekali ketika habis bangun tidur atau duduk lama. Pas berdiri atau jalan, wuaduh sakitnya seperti ketekan dan tak jarang sampai bikin saya mau menangis. Anehnya kalau sudah berdiri lama dan dibawa jalan lama, pelan-pelan sakitnya mereda. Muncul lagi kalau saya duduk lama dan berdiri dan mulai berjalan.

 

Segala berkas yang diperlukan untuk mengurus form A5 saya serahkan ke Pak Sukirno. Ia mengeceknya dan tersirat berkas tadi bisa di-acc. Saya minta izin untuk duduk karena merasa agak pusing karena anemia. Saya pun duduk di dalam dan hanya duduk manis saja sampai semuanya selesai. Pak Sukirno yang mengurusi ke petugas yang di dalam. Dia hanya keluar ketika menanyakan domisili saya di mana (yang di Jakarta) lalu masuk ke dalam lalu ke luar lagi dan menyerahkan form A5 dengan isian data TPS saya yang baru.

 

Baru tahu kalau saya terdaftar di TPS 10 Kota Bandar Lampung. Entah dimana TPS tersebut. Sepengingat saya saat pilkada walikota tahun 2015, saya kebagian TPS di Taman Budaya, Durian Payung. Jadi mestinya tak jauh-jauh dari situ atau malah tetap di situ. Saat menyerahkan, ia sedikit berpesan ya itu tadi. Suratnya dibawa saat pencoblosan dan ditunjukkan ke PPS di TPS tempat memilih dan mencoblosnya baru bisa dilakukan setelah jam 12 siang. Berhubung status saya ini DPTb (Daftar Pemilih Tetap Tambahan).

 

Oh iya, saya pun hanya bisa memilih untuk pilpres saja. Karena saya kan pindah TPS yang beda dengan dapil (daerah pemilih) TPS asal. Iyalah, mana saya kenal. Ah boro-boro kenal. Tahu juga kagak dengan para caleg di dapil TPS pindahan. Kalau calon DPD mungkin tahu karena beberapa dari mereka merupakan tokoh nasional. Jadi sebenarnya itu hanya pindah TPS saja. Bukan sekaligus memindahkan dapil-nya.

 

Saya sih nggak masalah dan malah merasa lebih lega karena hanya memilih untuk pilpres. Bayangkan saja ada lima lembar surat suara yang kita dapat (kecuali Jakarta yang hanya empat surat suara)bila mencoblos di TPS asal. Surat suara untuk memilih presiden dan wakil, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kota, DPRD Kabupaten. Presiden dan wakil hanya dua paslon yang bertarung. Sedangkan DPD, DPRD itu banyak nama. Pusing kan mencoblosnya? Dalam bilik suara, tak mungkin kita berlama-lama. Kasihan euy dengan pemilih lain yang juga mau nyoblos. Kali saja mereka punya waktu tak banyak atau sibuk. Pulang dari mencoblos sudah ditunggu sebrek pekerjaan yang harus diselesaikan.

 

Intinya coblosan saya lebih ringan daripada yang mesti nyoblos empat atau lima lembar surat suara. Tanpa harus mengurangi nilai pentingnya. Nah apakah karena mengurus di hari terakhir mengajukan pindah TPS sehingga pemutakhiran data DPTb nya terlambat?

 

Pada akhirnya saya tetap bisa mencoblos. PPS bagian pendaftaran mencatat nama saya lalu saya diminta tandatangan. Selanjutnya nama saya dipanggil oleh Pak Wanda dan diberikan surat suara berwarna abu-abu. Warna berbeda surat suara menunjukkan jenis pihan. Kalau dari yang saya baca, warna abu-abu untuk memilih presiden. Warna kuning, merah dan dua warna lagi untuk memilih calon DPD dan calon DPR/DPRD. Tiba di bilik suara, saya membuka lembar surat suara. Masih mulus dan harum kayak uang baru deh. Surat suaranya mulus lalu cuss pakai paku saya coblos angka di atas gambar salah satu paslon. Saya milih siapa? Ada deh, hehehe.

 

Usai mencoblos, seperti biasa – memasukkan surat suara ke kotak dan mencelupkan jari ke tinta ungu. Jari kelingking kanan yang dicelupin, sedikit saja. Iyalah, ngapain juga banyak-banyak sampai sebotol. Tapi ada kan orang yang rada ngawur, semua jarinya dicelupin ke tinta. Nggak mikir dia mah, ntar kalau mau ngupil gimana? Hidungnya dan upilnya jadi berwarna ungu. Iiih, jijik deh. Sebenarnya pas hendak memasukkan surat suara itu, saya kepengen deh difoto – pakai kamera foto hape sendiri lho. Bukan difoto paparazi. Tapi tidak kesampaian soalnya PPS-nya sedari awal sudah berpesan di TPS tidak boleh menggunakan hape. Sedih deh karena bukan saja ini momen bersejarah dalam arti pesta demokrasi lima tahun sekali. Tetapi karena lokasi memilihnya yang bukan di daerah asal, memilih di pulau rantau baru kali ini saya lakukan. Saya makin gigit jari pas malamnya melihat teman-teman banyak yang posting foto saat mereka di TPS. Mulai dari sedang berada di bilik suara, memasukkan surat suara. Hwuaaa.

 

Sebagai pelipur lara (walau tidak terlipur lara banget), saya pun memfoto jari kelingking yang bertinta ungu dan habis mencoblos lanjut ke mall untuk cari makan siang. Pemilu dan mencoblos memang menguras energi. Jelas saya butuh makan. Sambil penasaran ingin memanfaatkan diskon atau promo jari ungu. Sayangnya lagi-lagi tak kesampaian. Duh, sedih lagi deh. Tapi sudahlah, yang terpenting saya sudah menunaikan tugas dan kewajiban kepada bangsa sendiri dengan berpartisipasi dalam Pemilu. Semoga hasil terbaik bisa kita raih dari Pemilu kali ini sekaligus menjadi kado terindah di hari lahir saya. (Jakarta, 17 April 2019)

3 thoughts on “Nyoblos di Pulau Rantau, Ribet Tapi Lega

    1. Ahaha, sebenarnya malas nyoblos. Tapi mikir tanggung jawab sebagai warga negara. Katanya begini jangan tanya apa yang negara telah lakukan untukmu, tapi tanyalah apa yang sudah kamu lakukan untuk negaramu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *