Mengisi “Hati” di Vihara Buddha Metta Arama

IMG_0946
Altar utama di Vihara Buddha Metta Arama, Menteng, Jakarta Pusat. Foto dibidik Minggu 7/1/2018 | Karina Lin 

Aku takjub, di daerah Menteng (daerah orang kaya euy) Jakarta Pusat ternyata ada vihara. Namanya Vihara Buddha Metta Arama. Tepat di hari akhir tahun 2017 (31 Desember) tiba-tiba muncul keinginan untuk melipir ke vihara. Revisi diri sekaligus beribadah. Selain memang sudah lama atau jarang ke vihara. Namun dimana ada vihara di daerah Jakarta Pusat ini? Setahu saya yang banyak tempat ibadah umat Buddha itu adalah daerah Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Di Jakarta Barat ada Ekayana Buddhist Center yang merupakan pusat aktivitas ke-Buddha-an ala Buddhayana. Saya pernah dua kali berkunjung ke sana, keduanya tahun 2005.

Di Jakarta Utara ada Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya yang masuk daerah Sunter, Tanjung Priok. Baru setahun lalu saya kesana, tepatnya 20 Mei 2017. Vihara ini menganut aliran Buddha Theravada dimana secara harfiah berarti Ajaran Sesepuh atau Pengajaran Dahulu.

Saya cerita sama Bunga dan diberilah referensi olehnya. Awalnya B, memberikan referensi sebuah vihara di daerah Petojo. Jakarta Pusat juga sih, di Gambir. Namanya Vihara Maha Dharma (Guang Fa Si). B bilang dia tahu lantaran sewaktu masih tinggal di Jakarta, sering melewatinya.  Kemudian dia memberi satu referensi lagi, Vihara Buddha Metta Arama yang alamatnya di Jalan Terusan Lembang nomor 59 Menteng, Jakarta Pusat.

Dengan pertimbangan lebih dekat dan sepertinya saya lebih nyantel dengan vihara yang di Menteng itu, maka kesanalah saya di Minggu pagi, 7 Januari 2018 – sehabis dari Pasar Organik yang berlokasi di Jalan Sunda, sebelah Sarinah. Tanya-tanya sama bapak satpam di Jalan Sunda, dimana itu Jalan Terusan Lembang. Langsung dapat jawaban: jauh. Saya pikir kalau dekat, mau coba jalan kaki. Kan masih pagi dan cuaca nggak begitu panas pagi itu. Hitung-hitung sekalian olahraga – bakar lemak – bakar kalori dan bikin hati hepi. Dulu-dulu pun saya lebih memilih jalan kaki bahkan untuk jarak yang kata orang jauh – saya lakoni dengan berjalan kaki.

Eh ternyata memang jauh. Kalau Jalan Sunda lokasinya Menteng dekat Thamrin. Nah Jalan Terusan Lembang lokasinya diujung sebaliknya, lebih dekat dengan Taman Suropati dan daerah Matraman. Pantas saja bapak penarik bajaj minta tarif Rp25 ribu (setelah ditawar, deal Rp20 ribu). Ketika saya sudah duduk di bajaj sambil leha-leha, saya belum punya gambaran seberapa “jauh” yang dikatakan oleh pak satpam di Jalan Sunda. Baru terasa jauhnya setelah bajaj melewati Taman Surapati.

Lokasi vihara di Jalan Terusan Lembang berada di hook dan pas tiba, puja bhakti (umum) sudah dimulai. Yah namanya orang baru, saya belum tahu lah kapan jadwal puja bhakti disana. Kalau di Bandar Lampung – di Svarnadipa Arama, mulainya pukul 10.00 WIB. Saya baru dapat info jadwal kebaktian umum setelah bertanya ke pengurus disana. Katanya pukul 09.00 WIB. Baiklah saya catat dan semoga bisa berkunjung lagi minggu-minggu berikutnya.

Viharanya sederhana dan berukuran “cukup”. Saya mengambil tempat di teras luar dekat Bhaktisala (ruang puja bhakti utama). Mikirnya di dalam sudah penuh. Padahal pengin juga di dalam, pengen tahu dalamnya gimana dan pasti lebih adem karena pakai AC, hehe. Mantra-mantra atau doa dari tuntunan puja bhakti mulai dilafalkan satu per satu. Ada Tisarana, Panca Sila, Ettavata. Dhamadesana tak ketinggalan. Pengisi Dhammadesana ialah Bhante Gunasiri Thera. Judulnya Penghidupan yang Berkualitas Sama dengan Perjuangan Panna yang Tinggi. Ayo Kerja dan Kejar. Judulnya lucu, bikin ingat slogannya Presiden Jokowi (yang membara itu): Kerja, Kerja, Kerja!

Oiya, Dhammadesana adalah ceramah atau khotbah agama Buddha. Biasa disampaikan oleh Bhante (sama dengan Bhikkhu) atau Romo – mirip dengan khotbah Jumatan oleh Ustaz atau khotbah Minggu oleh Pastor deh. Sedangkan Panna berasal dari bahasa Pali (India Kuno) yang artinya kebijaksanaan, dalam bahasa Sansekerta dilafalkan Prajna. Panna merupakan salah satu bagian dari Jalan Utama Berunsur Delapan (Hasta Ariya Magga).

Tapi saya nggak terlalu memperhatikan isi Dhammadesana-nya. Saya kepanasan, sibuk celingak celinguk dan (jangan ditiru ya) sibuk buka hape. Tapi satu dugaan yang benar (sejak membaca nama vihara ini) bahwa Metta Arama menganut aliran Buddha Theravada. Theravada yang berarti Ajaran Sesepuh merupakan mazhab agama Buddha tertua yang masih bertahan. Dikutip dari ensiklopedia online wikipedia.org, Theravada bermula dari India. Theravada merupakan ajaran yang konservatif dan secara menyeluruh merupakan ajaran terdekat dengan gama Buddha pada awalnya dan selama berabad-abad menjadi kepercayaan yang berkuasa di Sri Lanka dan sebagian besar negara dari benua di Asia Tenggara (Kamboja, Myanmar, Laos, Thailand, Indonesia dan sebagainya).

Mengenai asal usulnya, disebutkan Wikipedia, Theravadin (Penganut Theravada) mengklaim bahwa nama Theravada berasal dari keturunan leluhur Sthaviravada. Setelah tidak berhasil mencoba untuk memodifikasi Vinaya, yaitu kelompok kecil yang terdiri dari para sesepuh, Sthavira, lalu memisahkan diri dari mayoritas Mahasamghika selama dewan Buddha Kedua, mengakibatkan munculnya Sthaviravada. Menurut catatan yang dimiliki mereka, tertulis aliran Theravada pada dasarnya berasal dari pengelompokkan Vibhajjavada (atau dokrin amalisis) yang merupakan suatu divisi dari Sthaviravada.

Catatan-catatan Theravadin mengenai asal usul Theravada menyebutkan bahwa aliran ini menerima ajaran yang disepakati selama Konsili Buddha Ketiga di bawah perlindungan Raja Asoka dari India, sekitar tahun 250 SM. Ajaran-ajaran ini disepakati sebagai Vibhajjavada. Duh masih panjang banget mengenai asal-usulnya. Kalau penasaran, bisa googling saja di mbah Google deh.

Sekira pukul 11-an kegiatan puja bhakti selesai dan inilah kesempatan saya keliling-keliling seputar vihara. Saya masuk ke dalam ruang Baktisala. Ya ampun, keren dalamnya. Ada satu altar utama dan dua altar pendamping. Satu lagi, ehm altar utama tapi versi mini. Pada altar utama ada rupang Buddha berukuran besar, nggak ngukur berapa tingginya dan enggak nanya sama pengurus vihara. Kira-kira saja deh sekitar 2,5 meter. Terbuat dari kuningan, kayaknya. Pada kiri kanan rupang Buddha terdapat pelayan sang Buddha. Lalu dua latar pendamping juga ada rupang murid Sang Buddha. Pada altar utama versi mini, ada rupang Buddha ukuran kecil, dan bunga serta berbagai sesajian.

IMG_0948
Rak susun rupang Buddha berjumlah 1.250 rupang di Vihara Buddha Metta Arama, Jakarta Pusat (minggu, 7/1/2018) | Karina Lin

Pada dinding sekeliling altar terdapat rak susun. Dalam masing-masing rak ada sebuah rupang Buddha sedang duduk bersila. Kata Pak Haryanto , seorang umat yang sudah lama menjadi warga Vihara Buddha Metta Arama, total rupang di rak susun berjumlah 1.250. Ah, saya paham. Jumlah segitu mengikuti total Bhikkhu yang hadir saat Magha Puja. Hebatnya kesemua bhikkhu yang hadir di hari raya itu adalah Arahat (ditahbiskan langsung oleh Buddha) dan berkumpulnya mereka, tanpa sebelumnya direncanakan. Nggak pakai SMS, telpon atau WA an dulu, kayak jaman now.

“Harga satu rupang Buddha kecil itu Rp1.250.000. Kalikan sendiri, berapa jumlahnya,” Kata Pak Haryanto sambil tersenyum. Wuih, digitnya pasti banyak tuh. Penasaran kepingin tahu wujud altar dan rupang-rupang kecil tadi? Lihat saja foto-foto yang berhasil saya jepret. Juga saya perhatikan pada bagian bawah dari rupang mini ini terdapat label nama orang. Saya menebak-nebak, bahwa nama tersebut adalah donatur untuk pembelian rupang.

Sementara pada bagian atas ventilasi, dipasangi lukisan. Bukan sembarang lukisan lho. Semuanya merupakan rangkaian lukisan yang mengisahkan kehidupan Siddharta Gotama mulai dari lahir, memutuskan untuk meninggalkan keduniawian, menjadi Buddha (Penerangan Sempurna), membabarkan Dhamma hingga beliau Parinibbana (mangkat).

Di dalam Baktisala, saya menyempatkan berdoa sendiri (menggunakan dupa atau hio). Saya tanya dulu sama Pak Haryanto, apakah boleh berdoa menggunakan hio? Boleh, dijawabnya. Mungkin lantaran pertanyaan ini dan saya yang celingak-celinguk jadi ketahuan banget orang baru di vihara.

IMG_0950
Penulis berfoto dengan latar altar utama Bhaktisala Vihara Buddha Metta Arama, Minggu (7/1/2018) | Karina Lin

Duduk bersimpuh di depan altar, saya memanjatkan doa dari lubuk hati. Sebuah doa yang dalam maknanya bagi saya, walau sederhana. Ungkapan kebersyukuran dan meminta bimbingan untuk menjalani satu tahun ke depan. Di tahun 2017, saya jarang sekali ke vihara karena kondisi yang tidak memungkinkan. Menjalani opname yang sampai koma dan ketika keluar dari RS, saya belum mampu berjalan. Saya mengalami penurunan. Rasanya bagaikan derita tiada akhir. Syukurlah walau terseok, sampai detik ini saya mampu hidup.

Tanpa sadar, airmata mulai menetes. Perlahan saya seka dan saya rasa sudah cukup “berkonsultasi” pada Buddha dan Sang Khalik. Mungkin kalau dibiarkan lagi, airmata itu bisa mengalir lebih deras. Seusai menancapkan hio di tempat abu, saya duduk sambil mengagumi betapa “indahnya” Sang Buddha. Bersamaan, Pak Haryanto menawarkan untuk mengambil foto saya berlatar altar vihara. Baiknya, saya jadi tak repot harus meminta tolong orang disitu.

Sempat mengobrol mngenai sejarah vihara. Dia agak bingung juga kapan pastinya vihara didirikan. “Tapi sudah lama ini. Ada 20 tahun,” ucapnya yakin. Penjelasan lengkap mengenai berdirinya vihara saya dapat dari pengurusnya. Bapak pengurus (nggak tanya siapa namanya) menunjukkan plakat pendirian yang disemen di dinding. Tercetak kalimat: memberikan penghargaan kepada Bapak Murdaya Widyawimarta dan Ibu Upasika Visakha Hartati Murdaya. Pada bagian pojok kanan bawah tertera tanggal 20 Mei 1993. Berarti usia vihara telah 25 tahun ya.

Dalam Bhaktisala selain digunakan untuk ibadah, ada yang menjadikannya tempat meditasi. Sejenak, kedua mata lekat mengamati seorang bapak yang berjalan dari ujung kiri ke kanan ruang. Ia berjalan perlahan dan tangannya membentuk lotus. Kelihatannya dia sedang melakukan meditasi berjalan. Matanya kelihatan terpejam. Hebatnya kok jalannya tidak tersandung ya?

Jelang pukul 12 siang saya melangkah keluar dari ruang Bhaktisala. Tak langsung pulang. Saya penasaran dengan pohon yang ada di depan. Ada satu pohon Bodhi dan satu lagi pohon Sala. Satu lagi tidak ada keterangannya. Pohon Bodhi saya ketahui sebagai pohon suci dalam agama Buddha. Pohon yang punya nama latin ficus religiosa masih satu trah dengan pohon beringin. Di bawah pohon Bodhi-lah Siddharta bermeditasi dan mencapai penerangan sempurna.

Saya baru bergegas dari vihara ketika jarum jam menunjuk hampir pukul 13 WIB. Ingat harus mengisi perut dan minum obat. Di luar vihara baru saya memesan Gojek. Tak lama kemudian datang seorang driver Gojek dengan berjalan kaki. Astaga, ternyata bapak Gojek ini tadi saya lihat sedang mengaso makan mie ayam gerobak yang mangkal di depan vihara. (Salemba, Jakarta – 8 Januari 2018)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *