Lekaslah Sehat, Ci Maria!

IMG_3211
Cake kejutan dari Ci Maria di hari lahir saya, Selasa, 17 April 2018. |Karina Lin

Ci Maria mengenakan daster batik berwarna biru campur merah dan orange, tanpa lengan. Rambutnya yang dicat agak emas dibiarkan tergerai sebahu. Wajahnya walau tanpa pulasan make up dan dia sedang dalam kondisi kurang fit, tetap kelihatan segar. Ketika saya mengunjunginya di ruang E-8 RS PGI Cikini, Minggu (22/4/2018) lalu, seorang suster sedang menyuntiknya dan seorang suster lainnya bersiap mengukur tensi darahnya. Saat melihat saya muncul dari balik pintu kamar ruang opname, segera senyumnya terkembang. Saya pun membalas. Sekaligus merasa lega. Ah, meski diopname, bersyukurlah kondisinya tak separah “dulu” ketika saya pertama kali bertemu langsung plus membesuknya di RS Kramat 128, Jakpus pada Januari 2018.

 

Usai suster pergi, segera ia menyapa saya, “panas ya (udaranya)?” Panas sekali, mana muter-muter lagi, jawabku lekas. Di situ sudah ada seorang perempuan muda, temannya Ci Maria. Ia memperkenalkanku kepada temannya itu. Lalu aku sedikit berbasa-basi mengobrol. Habis itu menyimak saja deh. Terus terang, meskipun lega, aku sempat terkejut juga ketika melihat kondisinya ini. Khususnya melihat jarum infus yang menancap di kedua permukaan tangannya. Ehm mendapati kabar dirinya diopname saja, saya sudah kaget.

 

Pada tangan kanan, satu jarum infus digunakan untuk menyalurkan dua kantung cairan infus berbeda. Satu kantung cairan berwarna bening dan satu lagi berwarna kuning lemon. Warnanya itu mengingatkan saya pada warna minuman penambah energi macam Extra Joss. Sedangkan pada tangan kirinya satu jarum infus untuk menyalurkan satu kantung cairan yang mirip teh hitam. Lalu setelah beberapa lama, saya kembali dibuat kaget kala ia menyingkap selimutnya untuk menunjukkan kondisi kakinya (kaki kanan) yang diperban. Aduh, itu pasti sakit dan nggak enak banget. Pikir saya.

 

Berawal dari Grup LDHS

Aku belum lama mengenal Ci Maria (ehm, aku lupa nama lengkapnya). Yang aku ingat, kami kenal di grup WA Lima Dasar Hidup Sehat (LDHS) yang dibuat oleh Marisza Cardoba. Mbak Marisza atau biasa dipanggil Mbak MC ialah seorang penyintas autoimun (Odamun atau ODAI) jenis ITP. Dia pernah mengalami keterpurukan sebagai akibat dari penyakit autoimunnya tadi. Jatuh bangun – kayak judul lagu dangdut yang dipopulerkan oleh Meggy Z. Berkat dukungan dari keluarga, teman dan dokter-dokternya dia mampu bertahan dan bangkit. Ia kemudian mendirikan Yayasan Marisza Cardoba (MCF) yang visi misinya untuk membantu dan memberdayakan para ODAI dan Odamun atau berbagi informasi mengenai autoimun.

 

Fokus utama dari MCF salah satunya adalah LDHS tadi. Lima Dasar Hidup Sehat (LDHS) disusun setelah melalui proses panjang, merupakan pilar hidup yang dapat diterapkan sepanjang waktu dan apabila diaplikasikan secara kontinyu, diyakini dapat menjadi “jawaban” atau sangat membantu para penyintas autoimun dalam menghadapi penyakitnya itu. Ada beberapa grup WA LDHS. Nah, saya dan Ci Maria tergabung di grup yang sama yakni grup 5 LDHS. Dalam grup yang setiap pagi rutin diingatkan mengenai LDHS dan penerapannya secara berkesinambungan, juga menjadi ajang sharing atau cuap-cuap asalkan tidak menyimpang dari tema seputar autoimun.

 

Ci Maria terkadang ikut nimbrung. Sampai suatu kali ia menghubungi saya melalui jalur pribadi alias japri. Lupa kapan tepatnya. Kala itu, dia bertanya seputar dokter di tempat saya berobat yakni RS Kramat 128. Selama ini dia berobat ke dokter pemerhati autoimun, dokter Nanang Sukmana, Sp.PD-KAI di RS Antam Medika, Jakarta Timur. Bermula dari itulah, kami mulai sering berkomunikasi. Tak sebatas autoimun saja (kebetulan jenis autoimun kami berbeda. Ci Maria memiliki Vaskulitis. Saya memiliki SLE atau Lupus dan AIHA. Jadi kalau kami mengobrol seputar autoimun, yang umum-umum saja). Melainkan juga ke kehidupan sehari-hari semisal kerja dimana dan apa pekerjaan, usia, apakah telah berkeluarga, tinggal dimana dan lain-lain. O iya sampai soal make up yang cewek banget.

 

Adapun pertemuan pertama kali dengannya berlangsung di RS Kramat 128, Jakpus. Loh kok rumah sakit? Iya, ceritanya Ci Maria dirawat inap pada awal Januari 2018 karena vaskulitisnya kambuh (Ini loh yang tadi saya sebut tidak separah dulu). Kedua kakinya bengkak dan harus dioperasi. Saat menjenguknya disana, kedua kakinya diperban sangat tebal dan belum dioperasi – sedang bersiap operasi lah. Ada beberapa jam saya disana, mengobrol dengannya. Sekitar empat-lima hari setelah operasi, saya datang menjenguknya lagi. Kebetulan saat itu juga waktunya saya kontrol dengan dokter saya. Di Bulan Maret, saya sempat sekali main ke rumahnya di bilangan Tanah Abang. Yang kedua kali, di bulan April 2018 ini. Tepatnya hari Selasa, 17 April 2018. Mainnya kali ini ke kediamannya menjadi salah satu yang tak terlupakan bagi saya.

 

Kejutan Hari Lahir

IMG_3215
Saya dan Ci Maria, Selasa, 17/4/2018. |Karina Lin

Begini ceritanya. Karin, jadi ke Citywalk Sudirman kan ntar sore? – WA Ci Maria di Selasa siang, 17 April 2018. Waktu masih menunjukkan pukul 13 WIB saat WA tersebut masuk. Saya sendiri masih berada di Bank Mandiri, habis setoran. “Ehm jadi, Ci. Tapi Citywalk Sudirman itu dimana yah?” Hehe, belum pernah ke sana sih.

 

“Dekat tempatku kok atau kamu ke tempatku dulu terus kita bareng-bareng ke Citywalk?” Tawarnya. Oh, okelah. Aku mengiyakan tawarannya. Mending begitu ketimbang resiko nyasar atau tunggu menunggu yang bikin bete itu. Tapi diam-diam aku bertanya-tanya juga. Habisnya dah berapa kali dalam sehari ini dia WA aku ngajak ketemuan. Eits tidak, dari semenjak hari Senin (16/4) dia dah sibuk WA in aku. Nanyain apa sudah di Jakarta? Waktu kujawab belum, baru mau berangkat – dipesanin supaya hati-hati dan safe flight. Pas sudah landing, dijapri lagi. Ditanyain apa sudah di Jakarta dan di kost. Ahaha, kepo banget.

 

Akhirnya sekitar pukul 17 an kurang, saya berangkat menuju tempat tinggalnya. Pakai gojek menembus kemacetan Jakarta membuat saya tiba di apartemennya lebih cepat dari waktu perjanjian. Sesampai disana, langsung mengabarinya dan menunggu sebentar di lobi apartemen. Lalu dijemput oleh sesosok wanita berusia 50 tahun (sepertinya) yang adalah kakak perempuan Ci Maria. Menumpang lift menuju lantai 17, berjalan sedikit dan sampailah di apartemennya. Ruang mungil 2 kamar tidur itu tampak riuh kali itu. Yang aku tahu, Ci Maria adalah keluarga kecil. Yang tinggal di situ hanyalah dia dan Anthony, anak lelakinya. Tapi hari itu, ada cici-nya (yang menjemput aku tadi) dan keponakan ci Maria serta seorang perempuan yang tak lain ialah mamanya ci Maria. Rupanya cici dan mamanya sementara tinggal di situ.

 

Saya mengobrol dengan semua yang di situ. Lalu mulai grasak-grusuk, mikirnya kapan jadi berangkat ke Citywalk-nya ya? Kan kata ci Maria sekitar 17.30 teng teng lah berangkatnya. Ini sudah lewat setengah jam dari waktu yang disepakati kok belum jalan juga.

 

Di tengah kegalauan tadi, ci Maria menunjukkan sebuah cake berbentuk lingkaran bertopping meises di seluruh kulit cake. Pada bagian atas cake tertulis kalimat “Happy Birthday.” Astaga! Rupanya cake ini ditujukan untuk saya. Ia memberi kejutan hari lahir ke saya. Kaget dan gembira. Untungnya saya tak sampai menangis. Asal tahu saja, saya termasuk orang yang mudah terharu loh.

 

Cake berdiameter 25 sentimeter dikeluarkan dari kotaknya lalu dipasangi lilin kecil sebanyak tiga buah. Lilin dinyalakan. Sebelum ditiup untuk make a wish, sempat berfoto dulu dengan Anthony dan keponakan ci Maria, dan Ci Maria. Kejutan tak berakhir disitu. Ci Maria juga membelikan mie goreng ulang tahun. Mie sebanyak dua porsi ini lantas disantap beramai-ramai, habis itu baru lanjut makan cake-nya. Menyantap mie saat merayakan hari lahir, dalam kalangan etnis Tionghoa merupakan hal yang wajib. Mie merupakan simbol panjang usia. Makanya wajib disantap.

 

Selain mie, telur yang diberi gincu merah juga wajib disediakan saat hari lahir. Tapi saya nggak tahu apa maknanya ya. Mungkin karena bulat dan mulut kulitnya sehingga melambangkan semoga kehidupan ini dapat senantiasa dilalui dengan baik (mulus). Entahlah.

 

Makan Mulu

IMG_2357
Martabak bertopping meises, keju dan kacang, salah satu yang dipesan Ci Maria melalui Go Food. |Karina Lin

“Kamu mau pesan rujak apa?” Tanyanya. Pertanyaannya menghentakkan saya dari lamunan. “Hm rujak buah saja deh,” jawabku singkat. Sepertinya ci Maria sedang mengorder Go Food nih. Kalau rujak buah saja sih tak apa. Kan malah bagus makan buah. Sejenak kemudian dia tanya lagi, mau martabak toping apa? Keju aja deh. Hah kok jadi banyak banget pesan go food-nya ya?

 

Sekitar 15 menit kemudian datang satu per satu driver Gojek mengantarkan pesanan tadi. Pertama rujak buah. Ini saya makan sepiring kecil bagi dua dengan ci Maria. Beres rujak eh datang driver Gojek mengantarkan martabak. Astaga kok banyak sekali? Dia memberikan sekotak martabak kecil bertoping keju. Di dalam plastik masih ada dua kotak martabak lagi. Martabak asin dan martabak manis toping meises dan kacang. Duh, duh edan kata saya. Kerjanya jadi makan mulu deh.

 

Padahal belum berapa lama saya baru menyantap makan siang berupa nasi bungkus Padang lauk telur sambel dan minum obat. Lalu sekarang sudah dilanjut makan rujak buah, sepotong martabak topping keju, dua potong martabak asin dan dua potong martabak topping meises kacang. Setelah selesai menuntaskan semua santapan tadi. Baru deh terasa sekali kenyangnya perut mungil saya.

 

“Ih gila kita ini ci. Sakit atau apa sih? Kerjanya makan gila-gilaan,” ceplos saya saat suapan potongan martabak terakhir. Iyalah, kalau dipikir-pikir kan benaran edan tuh. Orang sakit (ci Maria) biasanya nggak selera makan. Kalau saya sih makan biasa saja tapi kali ini luar biasa. Kayaknya kami bisa begini andilnya ci Maria deh. Demen banget order makanan banyak-banyak. Yang akhirnya bikin saya ikutan makan (banyak juga). Sampai malam hampir pukul 20 saya baru pulang dari menjenguk ci Maria. Eh pas pulang masih dibekali mie ayam pangsit lagi. Duh, ci. Kebanyakan dan memang benar – saya kekenyangan sekali hari ini memakan semua itu. Terima kasih ya cici. Lekas sehat lagi. (Salemba Tengah-Jakarta, Senin 23 April 2018)

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *