Kenapa Semangat Karin? (Bagian 1)

Selfie Bersama Uda Syof dan Mbak Rinjani Rei | Ist

Hore! Akhirnya Karin menulis lagi. Ngeblog lagi! Kata Mbak Asri, teman saya di grup WA Lupus Warror and sesama penyintas lupus, beberapa waktu lalu. Saat itu saya baru saja meng-copas link tulisan di blog saya yang bernama www.semangatkarin.wordpress.com. Tulisan saya share, tentu supaya bisa dibaca teman-teman atau siapapun yang berminat membacanya. Terserah mau dikomentari, dikritik, saya mah welcome-welcome saja.

Saya yang membaca perkataan Mbak Asri di grup WA tadi, tersenyum sendiri karena hepi. Bahagia karena dipuji dan merasa disemangati, hepi karena pada akhirnya saya bisa mulai eksis ngeblog lagi. Lho kok “lagi”?

 

Sebelumnya di Blogspot

Iya, sebelum di Semangatkarin.wordpress.com, saya pernah punya blog di Blogspot.com. Namanya Sycarita.blogspot.com. Lupa kapan tepatnya saya membikin blog ini. Isinya monoton kalau tidak bisa disebut tidak berkualitas. Ini menurut saya loh, sebagai yang pemilik dan pengelolanya. Isinya cuma artikel-artikel opini saya yang pernah dipublikasikan di media cetak lokal Lampung. Tidak ada tuh cuap-cuap  mengenai, misalnya pengalaman hari ini, travelling saya. Ups, baru ingat! Ada satu ding – hihi lupa. Mengenai Nasi Uduk Bu Mar yang berjualan pagi hari di depan sebuah pertokoan dari Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.

Saya cerita tentang sosok Bu Mar dan tentu jualannya itu – nasi uduk. Saya tulis lantaran penasaran setelah membaca tulisan atau status FB seorang senior AJI Indonesia (namanya Bang Hasudungan Sirait). Ke sana juga didorong penasaran setelah (lagi-lagi) baca status itu. Pasalnya juga tempat Bu Mar berjualan itu dekat dengan RS Kramat 128, tempat saya ngapel dokter saban bulan dan saya pernah melewati lokasi ini. Kalau pas mau ke fotokopi atau ke Bank Mandiri. Nasi uduk ini lebih dekat sama Bank Mandiri itu.

Terus satu lagi, saya cuap-cuap seputar pameran foto tenaga medis MSF “Doctors Without Border”. Dah hanya itu. Sisanya ya opini yang pernah di-published di media cetak lokal. Saya juga jarang meng-update blogspot ini. Kering kerontang jadinya blog saya ini.

 

Migrasi dan Ngeblog lagi

Baru beberapa minggu ini saya cukup aktif ngeblog, posting-posting tulisan saya. Ah, sebenarnya blog yang sekarang ini: semangatkarin.wordpress.com telah saya bikin sejak bulan Januari 2018 lalu. Tetapi tertunda beberapa bulan dan baru di bulan Mei akhir 2018-lah saya “isi”. Sampai berbulan-bulan tuh karena saya gaptek dalam hal per-wordpress-an. Posting tulisannya dan insert gambar sih saya paham (sikit-sikit), yang saya nggak paham adalah tampilannya. Saya tuh kepingin tampilan artikelnya tidak full. Cukup satu paragraf saja dan kalau si pembaca niat membaca artikel itu, bisa klik “read more”. Baru deh tampil seluruh isi artikel.

Tapi gimana ya? Sampai sekarang juga masih belum paham cara setting ini, termasuk background blog supaya kelihatan cantik dan fresh. Jadi ingat yang pernah dikatakan Mbak Yuli Nugrahani (penulis dan blogger domisili Bandar Lampung), kenapa dia pindah dari wordpress ke blogspot (kebalikan saya)? Sebab di blogspot lebih mudah dipahami setting-setting ini.

Owalah, saya optimis saja deh. Udah tak apa masih acakadut. Yang penting posting buku dulu. Urusan setting pelan-pelan dibenahi, termasuk soal huruf. Waktu kapan itu ada kawan yang kasih komen kalau hurufnya bikin pusing saat dibaca. Iya, itu ntar diganti saja deh. Saya sewaktu pilih jenis font itu mikirnya mau yang unik dan menarik. Eh malah jauh dari panggang api, hihi.

Pokoknya yang penting posting dulu dan ya ampun, di blog yang sekarang ini kok berasa beda ya? Semangat gitu loh untuk ngeblog mulu. Sampai saat ini (Kamis, 14/6) saya sudah mempublikasikan kurang lebih 5 tulisan di blog wordpress saya. Jumlah yang lebih banyak dibandingkan dulu.

Rasanya bikin ketagihan untuk terus bikin tulisan dan upload ke blog saya dan yang asyik, dalam blog kali ini pun saya lebih bebas – saya cerita macam-macam. Mulai dari pengobatan saya di RS Kramat 128, memori tentang teman-teman atau pengalaman unik bin lucu bahkan konyol. Tak ketinggalan opini-opini yang pernah dipublikasikan di media cetak (yang ini sama seperti blog lama).

Apakah saya jadi lebih bersemangat karena nama blog-nya  ya? Kan semangatkarin.wordpress.com. Entahlah, bisa ya dan bisa tidak. Pemilihan nama blog ini pun spontan saja. Walau ada riwayatnya. Ucapan Semangat Karin ini bukanlah datang dari saya, melainkan dari seorang teman yang senior di AJI Indonesia. AJI adalah kependekan dari Aliansi Jurnalis Independen Indonesia. Mengutip website AJI Indonesia (aji.or.id), bermula dari pembredelan Detik, Editor dan Tempo, 21 Juni 1994. Ketiganya dibredel karena pemberitaan yang kritis kepada penguasa. Tindakan represif inilah yang memicu aksi solidaritas sekaligus perlawanan dari banyak kalangan secara merata di sejumlah kota.

Setelah itu, gerakan perlawanan terus mengkristal. Akhirnya, sekitar 100 orang yang terdiri dari jurnalis dan kolumnis berkumpul di Sirnagalih, Bogor, 7 Agustus 1994. Pada hari itulah mereka menandatangani Deklarasi Sirnagalih. Inti deklarasi ini adalah menuntut dipenuhinya hak publik atas informasi, menentang pengekangan pers, menolak wadah tunggal untuk jurnalis, serta mengumumkan berdirinya AJI. Awalnya  AJI dianggap organisasi ilegal, para pemimpin AJI beberapa ada yang pernah dipenjarakan dimasa Orba. Tapi setelah Orba tumbang dan berganti Orde Reformasi – keberadaan AJI diakui atau legal.

Ini pun seiring pemberlakuan UU Pers yang baru yaitu UU No 40/1999 yang membolehkan berdirinya organisasi pers lain selain PWI.

Adalah Uda Syofiardi Bachyuljb si pencetus “Semangat Karin”. Saya masih ingat awal mula Uda Syof (biasa dipanggil begitu) mencetuskan sebutan ini. Tepatnya di bulan Mei 2017 tanggal 25. Waktu itu saya bermaksud kontrol ke RS Kramat 128. Kontrolnya pukul 16.00 WIB atau mengikuti jadwal praktek dokter yang merawat saya (dokter Ratna Andriyani, Sp.P). Tapi biarpun sore, tetap kita sebagai pasien harus datang lebih awal, apalagi kalau status pasiennya BPJS. Kita perlu melakukan registrasi di RS dan ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Di hari saya hendak kontrol itulah, saat bersamaan – Uda Syof berada di Jakarta untuk keperluan organisasi. Nah, kebetulan sekali. Toh sudah lama juga saya tak bersua dengannya. Terakhir jumpa saat di Festival Media AJI bulan November 2016. Sesudah itu ya komunikasi melalui WA atau Telegram. Tapi terputus lantaran saya opname di RS dan nggak memungkinkan pegang hp.

Jadi diaturlah, pas hari itu (kalau tak salah Selasa) saya berangkat lebih awal dari City Park. Ini apartemen yang sementara saya sewa pasca keluar dari opname, lokasinya di Cengkareng, Jakarta Barat. Tujuannya ke Jalan Kembang Raya nomor 6 Kwitang, Jakarta Pusat. Sebab disitulah Sekretarist AJI Indonesia berlokasi dan Uda Syof menunaikan keperluan organisasi di sana.

Dari apartemen ke Sekret AJI, saya menggunakan Gocar sehingga tidak repot. Kan diantar sampai depan pintu rumah dan pas tiba di sana, rasanya amazing! Bisa kembali melihat dan menjejakkan kaki di tempat itu dan terutama bisa berjumpa lagi dengan Uda dan kawan-kawan AJI Indo (yang senior-senior biasanya). Memang ada Uda Syof di sana, sedang duduk di dalam ruangan yang ada di bagian depan pojok kiri. Ruangan itu dulu pernah saya tempati ketika sementara menginap di sekret untuk keperluan berobat lupus di RS Kramat 128 dalam bulan-bulan Desember 2016.

Uda Syof segera menyambut saya sambil dengan senyum khas-nya. Rasanya terharu dan bahagia bercampur aduk. Bagaimana tidak, setelah sekian lama dan seandainya saya tidak bisa melewati masa-masa genting saat dirawat di RS. Ah, tetapi Tuhan punya skenario lain bagi saya dan saya bersyukur.

Segera saya menyapa uda dan mengobrol macam-macam. Tak lama datang Mbak Rinjani Rei. Inilah pertama kali saya bertemu dengannya. Meskipun begitu, saya cukup familiar dengannya. Mbak Rinjani turut berada disitu karena bekerja satu tim dengan Uda Syof (dan satu lagi Mas Abdul Manan), tapi enggak bertemu. Mas Manan datangnya sore. Mas Manan ialah Ketua AJI Indonesia yang sekarang. Ia dan Mas Revolusi Riza terpilih secara aklamasi sebagai ketua dan sekretaris  dalam Kongres AJI XI di Solo.

Saya juga mengobrol dengan Mbak Rei (panggilan Mbak Rinjani). Macam-macam yang diomongin, termasuk kondisi saya saat itu dan soal media dan AJI. Ada sekitar 1-2 jam saya berada di sana. Sekitar pukul 13.00 WIB, saya pamit untuk berangkat menuju ke RS Kramat 128.

Malamnya (setelah pulang dari berobat jalan dan santai), saya membuka fb dan di situ ada postingan dari Uda Syof yang di-tag ke saya dan Mbak Rei serta teman-teman lain. Isi postingannya adalah foto kami bertiga. Hihi, iya – saat di sekret Kwitang – kami sempat berselfie beberapa kali menggunakan kamera hapenya uda. Sementara dalam bagian keterangan, uda menceritakan tentang perjumpaan pagi itu beserta kesan-kesannya. Dalam keterangan inilah ia mencetuskan “semangat Karin” itu. Sebuah ungkapan berkonotasi positif, menunjukkan bahwa diri saya yang sekarang ini bersemangat menjalani hidup pasca keluar rumkit.

Saya sih senang saja dan merasa tersanjung karena ini. Walau sebenarnya saya nggak segitunya sih. Ada kalanya saya bete, jutek-an. Istilahnya mood swing sehingga itu “semangat” menjadi pudar.

Lepas dari postingan uda, ternyata banyak teman-teman yang berucap “semangat” kepada saya. Setiap kali bertemu dengan saya dan saat menyudahi percakapan, mereka berucap “tetap semangat ya” atau “semangat terus”, “semangat!”, semangat Karin! Berulang-ulang atau kerap didengungkan yang membuat saya makin lama makin terprovokasi karena efek positifnya. Makanya kemudian saya jadikan nama resmi blog baru di wordpress: www.semangatkarin.wordpress.com

Ada hal yang sangat membahagiakan dari menulis di blog dan sedikit telat baru merasakan kebahagiaan itu. Dulu sewaktu masih menulis di blogspot – saya merasa datar saja usai mem-posting satu tulisan. Di wordpress beda, saya kira karena apa yang saya tulis itu. Ada tulisan mengenai pengobatan TB saya (karena lupus) yang saya jalani kurun Januari 2017-Mei 2018, ada tentang kenangan terhadap teman odapus, semangat dan harapan kepada teman yang sakit agar lekas sembuh. Ya tulisan bertema sederhana yang berasal dari pengalaman dan yang saya simpan dihati. Kebahagiaan itu ketika artikel yang saya tulis bisa memberi manfaat untuk orang lain. Bukankah sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang memberi manfaat untuk orang banyak? (Penengahan-Bandar Lampung, Kamis, 14 Juni 2018)

2 thoughts on “Kenapa Semangat Karin? (Bagian 1)

  1. Blognya keren, walau masih sederhana tetap cantik dan merepresentasikan semangat odapus dengan kupu2 dan warna ungunya. Love it ❤ Ditunggu tulisan2 selanjutnya..
    Semoga semangatmu menular ke setiap pembaca yang mampir ya… Good Job Karin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *