Karena ke Bogor (Kali Ini) Adalah Perjuangan untuk Saya, Syukurlah Berakhir Bahagia (Cerita dari Workshop Writerpreneur Accelarate Bogor 2019)

Flyer Workshop Writerpreneur Accelerate di Bogor, 25-28 Juni 2019 | Dok Bekraf

Bogor, si kota hujan itu tak begitu jauh dari Ibukota Jakarta. Secara kilometer, kota kecil yang merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat ini hanyalah berjarak 56 kilometer-an dari Jakarta. Berbagai moda transportasi dapat dijadikan pilihan untuk menuju atau kembali dari sana. Kita bisa memilih apa mau menggunakan Commuter Line AKA KRL? Saya googling dan hasilnya kalau kita menggunakan KRL dari Jakarta ke Bogor (juga sebaliknya), waktu yang diperlukan sekitar 2 jam-an, itu kalau kita tidak mengalami keterlambatan KRL. Menggunakan kendaraan pribadi atau bisa juga taksi dan waktu yang diperlukan hanya 1 jam-an dengan catatan tidak terkendala kemacetan.

Atau mau berangkat atau pulang dengan cara yang agak nyeleneh yakni jalan kaki (pun bisa), asalkan kita tahan saja menghabiskan waktu selama lebih dari sepuluh jam menapaki jalan. Kalau pulang pergi, total waktu yang dihabiskan adalah 10 jam dan jangan dilupakan resiko tepar alias kelelahan.

Berdasarakan pengalaman dan pengamatan, selama ini orang yang hendak berpergian dari dan ke Bogor menuju ke dan kembali ke Jakarta – rerata memilih KRL sebagai opsi utama. Mengapa? Pertimbangan utama ialah soal biaya dan kepraktisan. Pakai KRL kita hanya perlu membayar Rp6500 untuk sekali perjalanan. Mungkin ada biaya tambahan per kilometernya, saya kurang tahu berapa. Namun yang jelas, perjalanan ke Bogor dan sebaliknya – biayanya sangat ekonomis. Kita pun cukup mendatangi stasiun terdekat untuk menjangkau KRL ke Bogor.

Tak terkecuali saya yang setiap kali ke Bogor plus kembali ke Jakarta selalu memilih menggunakan KRL. Namun untuk kali ini, saya dibuat gamang – yang syukurlah kemudian berakhir senang atawa bahagia. Mengapa?

 

Selamat! Kamu Terpilih

Kamis (20/6) sepulang dari fisioterapi di RS Kramat 128, Jakpus – saya menuju ke Gado-Gado Boplo di Jalan Raden Saleh Raya. Ngapain? Jelas untuk mengisi perut. Seporsi gado-gado saya pesan untuk disantap di tempat dan sembari menunggu pesanan, saya keluarkan hape untuk mengecek pesan WhatsApp (WA) yang masuk. Di antara sekian banyak pesan yang masuk itu, pandangan saya tertuju pada sebuah nama; Delisa Novarina Bekraf (Delisa ialah contact person acara workshop-nya). Segera saya buka dan saya baca.

Dalam pesan tertulis “Selamat! Kamu terpilih menjadi salah satu dari 50 peserta Workshop Writerpreneur Bekraf 25-28 Juni 2019 di Bogor….” . Spontan rasa senang melingkupi. Masih terbayang saya senyum-senyum sendiri saat membaca pesan tersebut. Sedikit penjelasan, biar tidak bingung. Sekitar seminggu sebelum hari Kamis itu saya mendaftar untuk mengikuti Workshop Writerpreneur (WW) yang akan digelar oleh Bekraf tanggal 25-28 Juni 2019 bertempat di Kota Bogor. Workshop ini, merujuk namanya jelas berhubungan dengan kepenulisan.

Lalu apa itu Bekraf, selaku sang penyelenggara? Bekraf merupakan kependekan dari Badan Ekonomi Kreatif, sebuah lembaga pemerintah non kementerian yang berada di bawah dan bertanggung jawaw kepada presiden melalui menteri yang membidangi urusan pemerintahan di bidang pariwisata. Mengutip laman bekraf.go.id, Bekraf dibentuk pada 20 Januari 2015 berdasarkan Perpres RI Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif. Lembaga bentukan Presiden RI Joko Widodo ini bertanggung jawab terhadap perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Bekraf bertugas membantu presiden dalam merupuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan di bidang ekonomi kreatif.

Mengenai visi misi dan lain-lain seputar Bekraf, bisa dicek lebih lanjut dalam laman mereka ya, yakni di bekraf.go.id. Kalau ditulis di sini semua, bakal jadi panjang dan entah kapan saya bakal sampai ke Bogor (hihihi). Singkatnya bersamaan pembetukan Bekraf, dipilihlah Triawan Munaf sebagai Kepala dan Deputi Bekraf. Mungkin kita agak familiar dengan nama Pak Triawan, ya beliau ialah ayahnya mantan artis cilik Sherina Munaf itu lho.

Saat mendaftar acara ini ya saya daftar saja, berharap namun tidak mau terlalu ngotot. Hanya pasrah dan berserah. Saya yakin Tuhan tahu yang terbaik untuk saya (duh, kayak minta jodoh saja ya?). Jadi setelah membaca pengumuman saya lolos seleksi WW di Bogor, saking senangnya – saya kehilangan nafsu makan gado-gado yang telah terhidang. Namun saya paksa-paksa walau seuap demi sesuap lamat-lamat. Iyalah, kalau tak begitu bisa berbahaya karena saya harus minum beberapa suplemen setelah makan siang ini.

Saya masih gembira saja tuh sesampainya di kost an. Ya ampun, nggak percaya! Lolos seleksi, bakal menimba ilmu kepenulisan, bakal menginap di Bogor yang adem plus sudah terbayang ranjang yang empuk. Juga perbaikan gizi atawa tak perlu pusing memikirkan makan. Toh sudah pasti disediakan di sana, tinggal hap saja. Hehehe. Maklum, anak kost. Segera informasi bahagia ini saya bagikan ke sejumlah teman. Yeay, yeay….

Teman-teman yang diberitahu kabar ini sih ikut senang. Tapi tak terhindarkan mereka bertanya begini; ke Bogor-nya pakai (transport) apa?. Nah ini dia! Pakai apa ya? (baru mikir). Banyak yang menyarankan KRL. Ya saya sih nggih-nggih saja dengan catatan andaikan saya sehat. Masalahnya pada saat ini, kondisi sedang kurang bersahabat. Khususnya si kaki. Sudah sejak beberapa bulan belakangan, kaki kiri saya sakit sekali setiap berdiri dari duduk atau bangun tidur dan kemudian dibawa jalan.

Sakitnya aduhaiii, mirip ketekan atau kejepit ya dan itu masih ditambah rasa pegal-pegal menjalar dari paha sampai tungkai kaki bawah. Ada kalanya linu nyut-nyutan yang tak tertahankan. Suatu kali, pernah saya sampai menangis di tempat umum – yang praktis membuat orang-orang sekitar kebingungan, ada apa ya kok menangis? – saking sakitnya. Sampai pulang dibonceng ojol, saya masih sesunggukan sakit. Jadinya mikir tujuh keliling mau pakai tranportasi apa ke Bogor. Ini jadi tantangan dan PR baru buat saya. Yah kalau dibandingkan dengan teman-teman lain yang juga lolos seleksi – tentulah mereka lebih bebas mau pakai transport apa ke Kota Hujan.

Sesampai di kost dan sesudah berbagi berita bahagia plus ditanyain ke Bogor-nya mau pakai transport apa, mulai deh saya tanya-tanya dengan teman-teman yang “paham”. Termasuk kategori paham di sini: teman yang memang urang Bogor, orang Jakarta lama (banget), pemilik tour dan travel, teman yang hobinya jalan-jalan dan tak ketinggalan mbah Gugel.

Kalau dari mbah Gugel, saya cari-cari travel. Lha iya, saat itu yang terpikir adalah naik travel saja. Pakai taksi online atau taksi biasa, duh berat di ongkos walau secara harga, taksi online lebih murah daripada taksi biasa. Dapat beberapa nomor kontak travel, saya coba hubungi satu per satu dan jawabannya merata; tidak ada travel rute Jakarta-Bogor. Duh nyesek juga ya. Saya masih berandai-andai ada travel rute tersebut. Travel yang bisa menjemput di Salemba dan menurunkan di hotel Royal Padjajaran Bogor.

Intinya saja deh, setelah berhari-hari berjuang mencari travel itu – hasilnya memang nihil. Cuma ada info kalau dari Bandara Halim Perdanakusuma ada travel dan Damri yang menuju ke Bogor. Artinya dari tempat kost, saya perlu ngojek dulu ke bandara. Aih kok nanggung amat sih. Tapi pas dekat-dekat hari-H, saya sungguh-sungguh mempertimbangkan opsi tersebut. Yah kalau sampai mentok sekali, tiada pilihan maka apa boleh buat.

 

Berserah Itu Memang Indah

Saya dan Egi dalam KRL rute Jatinegara-Bogor, Selasa (25/6/2019) | Dok Pribadi

Saya pasrah dan berserah lagi untuk urusan transportasi ke Bogor ini. Tuhan, saya serahkan semuanya kepadamu, saya percaya engkau tahu kondisiku tanpa harus saya bercerita kepada-Mu. Saya tahu Kau pasti membantuku.

Sampai sehari sebelum keberangkatan – tepatnya di Senin (24/6) pagi, saya sudah menyiapkan dua opsi yakni ke Halim lalu menyambung travel atau Damri ke Bogor atau tetap menggunakan KRL. Kalau nanti jadi pakai KRL, paling-paling saya minta bantuan ke Polsuska (polisi khusus kereta) saja untuk membantu menaikkan, menurunkan dan membawa barang, juga untuk naik dan turun KRL nya. Begitulah ancang-ancangnya.

Selanjutnya saya sudah tak terlalu memikirkannya lagi karena sekitar pukul 9-an pagi harus berangkat ke RS Kramat 128 untuk menjalani fisioterapi kedua kaki. Itu adalah fisioterapi yang keempat yang saya lakukan dalam bulan Juni ini. Dokter Rehabilitasi Medik yang menangani, merekomendasikan sebanyak enam kali fisioterapi untuk kedua kaki saya yang sakit itu plus dilaser. Biasanya setelah fisoterapi dilanjutkan laser. Namun hari Senin bukanlah hari praktek dokter Rudy (dokter spesialis rehabilitasi medik yang menangani saya), beliau prakteknya baru besok. Sementara besok yang artinya Selasa, saya kan sudah harus berangkat ke Bogor. Jadi tidak mungkin lah.

Sesudah menjalani dan keluar ruangan fisioterapi, saya duduk santai sambil membuka hape dan secara tak sengaja membaca postingan seorang teman di WAG WW yang bilang akan berangkat ke Bogor menggunakan KRL dari stasiun Senen atau Sentiong. Ah, ini dia. Kenapa tidak bareng saya saja? Saya balas pesannya di grup sekaligus japri. Syukurlah dia mau dan kami bersepakat untuk bertemu sekaligus berangkat dari stasiun Kramat esok hari (Selasa, 25/6) pada pukul 08.30-09.00 WIB.

Egi Sukma Baihaki adalah teman segrup yang menjadi teman seperjalanan saya. Bukan hanya teman seperjalanan, dia juga banyak sekali membantu saya. Mulai dari membantu membawakan tas – yang isinya lumayan berat lantaran berisi laptop, buku dan baju ganti selama di Bogor, dan tas tangan kecil yang isinya makanan buat mengganjal perut selama di perjalanan – hingga menuntun saya.  Egi (entah berapa usianya, saya tidak tanya tapi jelas masih muda, awal 20 tahunan) ini ngekost di kawasan Johar Baru – tak berapa jauh dari Salemba, tempat saya. Aslinya dari Subang, sebulan sekali ia mudik ke kampung halaman. Kalau di Jakarta, dia sudah sejak tahun 2013 (kalau tak salah ingat).

“Kamu cuti kerja dong?” tanya saya memulai perbincangan ketika kami sedang duduk di kursi stasiun menunggu KRL relasi Jatinegara-Bogor. Dijawabnya tidak. Rupanya Egi baru lulus kuliah (dan belum mulai bekerja) dari Unusia (Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia), ia mengambil program studi Ilmu Sejarah. Wah, sedikit nyambung dengan saya yang merupakan lulusan Pendidikan Sejarah, Universitas Lampung. Hm, berarti Egi di Jakarta semenjak dia mulai berkuliah di Unusia. Saya juga bisa mendapat sedikit gambaran, bahwa ia mendaftar mengikuti ini (workshop) sebagai salah satu pengisi waktu dan menambah pengalaman jeda kelulusannya.

Sekitar pukul 9.30-an barulah KRL rute Jatinegara-Bogor datang. Sebenarnya dari stasiun Kramat bila hendak ke Bogor, kita punya dua opsi. Pertama, bisa dari sini ke Jatinegara dulu lalu menuju ke Manggarai dan dari situ kita naik KRL ke Bogor. Kedua, ya dari sini langsung ke Bogor, namun memang sedikit lama dan jauh lantaran harus memutar hingga ke ujung dahulu. Harus singgah di Kampung Bandan dan Angke yang notabene sudah masuk wilayah Jakarta Utara. Makanya tak heran perjalanan sampai dua jam lebih.

Kami tiba di Bogor hampir pukul 11.30 WIB dan seperti biasa, suasana Stasiun Bogor selalu ramai. Sesampainya di sana, taksi online menjadi opsi untuk menuju ke Royal Padjajaran Hotel Bogor. Cuma, di sini ini loh yang rada bikin kesal. Pasalnya transportasi online dilarang menaikkan atau menurunkan penumpang di pintu keluar atau masuk yang terdekat dengan stasiun. Kita harus jalan dahulu ke Taman Topi atau jalan dahulu ke pintu ke luar/ masuk parkiran untuk bisa naik atau turun tranportasi online. Saat itu saya dan Egi memutuskan untuk naik taksi online dari pintu ke luar/ masuk parkiran kendaraan stasiun Bogor. Ada kali jaraknya sekitar 300-400 meter. Dalam kondisi sehat atau biasa sih tak masalah. Lain kalau dalam kondisi khusus. Tapi mau bagaimana lagi, tetap harus jalan toh.

Pelan-pelan kami bersama penumpang lainnya berjalan menyeberangi parkiran mobil lalu menuju ke selasar stasiun menuju ke pintu ke luar/ masuk. Di sini butuh ekstra tenaga dan esktra sabar. Mengapa? Ekstra tenaga jelas maksudnya kan jalan kaki dan mengangkat barang. Ekstra sabar? Coba deh selama jalan di selasar itu mengendus, apa tidak tercium aroma tidak mengenakkan? Tak lain tak bukan adalah bau pesing. Sangat kuat sekali aromanya. Saya yang sudah menutup hidung dengan masker saja, masih mencium aroma tersebut. Sungguh tak habis pikir atau tepatnya bingung. Saya bertanya-tanya siapa lah pelakunya. Kalau merujuk pada feeling sih manusia ya? Namun entah siapa dan bilamana betul manusia, kok tegaan sekali. Apa tak pernah terpikir pada etika atau dampak dari yang dilakukannya? Malu-maluin saja. Bayangkan, stasiun Bogor yang “keren” di dalamnya ternyata berbanding terbalik dengan bagian luarnya.

Perjalanan sedikit macet di jalan depan Stasiun Bogor dan jalan yang ada KRB-nya itu loh – nggak hafal apa nama jalannya. Tapi sesudahnya lancar sekali dan kami tiba di Royal Padjajaran Hotel Bogor pukul 12.00 WIB. Fuih rasa lelah bodi dan pikiran terbayar sudah. Bagi saya perjalanan kali ini yang berbeda, memang sungguh perjuangan. Tapi saya baru ingat, dahulu pernah lebih “berjuang” lagi lantaran saya berada dalam kondisi benar-benar tak bisa berjalan. Oya, saya juga menyadari bahwa setibanya di hotel, barulah permukaannya saja. Sebab ada tiga hari ke depan yang menunggu, di mana selama kegiatan workshop berlangsung – pastilah energi lebih terkuras lagi. Waktu itu yang terpikir semoga saya sanggup menjalaninya. Amiiin.

Lantas bagaimana dengan perjalanan kembali? Kalau yang ini relatif lebih mudah dan santai. Sebab selama di workshop kan mengenal dan mendapat teman baru. Ternyata ada satu teman yang rumahnya berlokasi di Klender, Jakarta Timur dan ia berencana pulang menggunakan taksi. Mbak Riris namanya. Jadi saya bisa pulang bareng dirinya, ditambah seorang teman kami lagi yang bernama Marfa. Ia ikut turun di kost-an dan membantu membawakan barang-barang saya. Lalu dengan ojol melanjutkan perjalanan ke Stasiun Senen untuk kembali ke Purwokerto, rumahnya. Tak salah kan kalau saya bilang “perjuangan yang berakhir bahagia?”. (Jakarta-Senin, 1 Juli 2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *