Indonesia, Jepang, dan Bencana

image (1)
Lampost edisi Selasa, 15 Januari 2019 | Ist

Hari ini ci,” tulis Rudiyansyah dalam WA-nya yang dikirim ke saya pada Selasa (15/1) lalu pada pukul 13.22 WIB. Setelah membaca, sontak saya gembira. Oh yeah, akhirnya artikel saya mejeng lagi di surat kabar Lampung Post (Lampost). Yah, sesudah sekian lama dan diliputi harap-harap cemas. Apalagi artikel yang saya kirimkan ke Lampost telah terjeda cukup lama dari tanggal kirimnya.

Artikel yang (akhirnya) ber-happy ending di Lampost edisi Selasa, 15 Januari 2019 berjudul Indonesia, Jepang, dan Bencana, isinya berupa opini pribadi menyoal mitigasi kebencanaan di negara kita yang harus belajar dari negeri Sakura. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jepang rentan bencana alam gempa bumi dan tsunami bahkan hingga ribuan tahun lampau. Indonesia, kondisi geografisnya mirip-mirip Jepang – yang juga rentan bencana.

Apa yang membedakannya adalah soal mitigasi bencana. Jepang sudah menyadari 1000% dan cocern pada mitigasi bencana. Dari waktu ke waktu mereka meningkatkan kompetensi penanganan dan penerapan mitigasi tersebut. Mereka terus berusaha atau kontinyu punya tekad mengurangi dampak baik korban jiwa atau harta benda seminimal mungkin.

Sedangkan Indonesia? Aduh, yang ada hanya tepok jidat. Jauh amit! Bukan lagi langit dan bumi. Sudah jadi Bumi dan Pluto. Dalam artikel ini saya mencoba “menyentil” sembari mengurai solusi yang bisa dijadikan bahan pertimbangan atau pemikiran dalam mitigasi bencana.

Artikel opini yang dimuat Lampost, ada beberapa bagian yang dipotong. Paham karena mengikuti kebijakan redaksi dan termasuk jumlah kolom atau halaman yang terbatas. Aslinya opini saya hingga empat halaman A4. Boleh baca versi yang telah diedit dalam Lampost, 15 Januari 2019. Dalam postingan ini, saya tampilkan opini yang asli (tanpa editan). Selamat membaca (Salemba Tengah, 18 Januari 2019).

 

Indonesia, Jepang, dan Bencana

Oleh Karina Lin

Karin punya intuisi ya? Tanya seorang teman melalui WA kepada saya. Pertanyaan diajukan Senin (24/12) lalu, setelah di malam Senin (Minggu, 23/12) saya bercerita bahwa dalam bulan November 2018 pernah mengalami mimpi tsunami dan gunung meletus. Mimpi di malam hari tanpa sebelumnya (pagi sampai siang atau sepanjang hari) saya melakukan aktivitas yang bersentuhan dengan “banjir, tsunami, dan gunung meletus” – misalnya membaca informasi mengenai dua hal tadi di koran atau internet. Sebelum tidur pun, saya lebih dahulu berdoa – meminta Ilahi menjaga tidur dan menjauhkan mimpi-mimpi buruk dalam istirahat saya.

Tapi entah kenapa mimpi itu tetap menghampiri. Dalam mimpi, saya mengingat dengan jelas air laut yang pasang mengenangi jalan, jalannya berada di tepi laut atau pantai. Saat itu saya bingung hendak lari kemana. Sebab sepanjang mata melihat, yang tersaji adalah air dan air. Ketika kemudian saya berlari dan berada di tempat aman – sebuah rumah kayu – dapat melihat terjangan air yang tinggi. Jeda sejenak terjadilah gunung meletus yang menyemburkan api dan asap di sekeliling puncaknya. Saya hanya memandangi dari tempat aman tadi. Gunung tadi serasa dekat. Hanya dipisahkan oleh lautan.

Mimpi tadi terus kepikiran selama beberapa minggu dan telah hampir saya lupakan. Ternyata tanpa diduga terjadilah musibah tsunami pada 22 Desember lalu. Pada malam itu, sebagaimana kita ketahui bersama, tsunami telah menerjang wilayah Banten, Lampung, dan sekitarnya.

Merangkum dari beberapa media, tsunami menerjang sekira pukul 21.30 WIB. Ia menghempas wilayah Banten dan sekitarnya (Pandeglang, Sumur, Anyer, dan lain-lain) dan Lampung (Pulai Sebesi, Pulau Sebuku, dan lain-lain). Akibat tarian maut sang air laut, korban jiwa dan korban luka berjatuhan. Data dari BNPB yang dikutip detik.com, 28 Desember 2018 menyebutkan ada 426 jiwa meninggal akibat tsunami di Selat Sunda dan Lampung. Jumlah korban jiwa (dengan sangat sedih) harus diakui pasti bertambah, mengingat pascatsunami – masih ada korban hilang dan sampai detik ini masih belum ditemukan. Upaya pencarian masih terus dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berwenang mengurusi.

Akibat tarian ganas si air bah (pula) tak terhindarkan bangunan rata atau hancur lebur tak berbentuk lagi. Alam yang indah seperti Pantai Carita kini tak lagi indah setelah tsunami. Ia menjadi tempat yang membangkitkan pilu bagi kita dalam beberapa hari ke depan dan untuk saya, membuka kembali kotak mimpi yang (sebenarnya) hampir dilupakan.

Tetapi tentu kita tak bisa terus berlarut sedih. Kita harus bangkit. Bangkit yang bagaimana?

Simpang Siur Penyebab Tsunami

Ada satu hal yang menarik bagi saya, pascatsunami terjadi. Bukan soal jumlah korban jiwa dan luka (walau ini memang bikin sedih) yang tergolong banyak. Melainkan soal penyebab tsunami dan apakah benar-benar tsunami. Saya mencatat, pada awalnya disebut-sebut bahwa terjangan tsunami yang melanda Banten dan Lampung – bukanlah tsunami. Keterangan ini datang dari Kapusdatin BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Mengutip Tirto.id, bahwa yang terjadi di Selat Sunda dan Lampung disebabkan gelombang pasang. Apalagi saat itu sedang bulan purnama, sehingga menyebabkan permukaan air laut naik. Jadi fenomena yang ada saat ini bukanlah tsunami. Tidak ada tsunami di wilayah Indonesia saat ini.

Mengapa tidak disebut tsunami dan hanya gelombang pasang? Masih mengutip Tirto.id, karena (kata Sutopo) BMKG melaporkan tidak ada gempa besar yang dapat membangkitkan tsunami, baik gempa di sekitar Selat Sunda maupun di Samudera Hindia. Dalam siaran pers ini juga disebutkan bahwa fenomena gelaombang pasangnya tidak ada hubungan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

BMKG seperti dikutip oleh Tirto.id, dalam twitter-nya menyatakan hal yang sama dengan BNPB yakni BMKG tidak mencatat adanya gempa yang menyebabkan tsunami malam ini. Yang terjadi di Anyer dan sekitarnya bukan tsunami, melainkan gelombang air laut pasang.

Namun akhirnya pemerintah (melalui BMKG dan BNPB lagi) meralat dan berkesimpulan gelombang tinggi tadi adalah tsunami. Sampai di sini masih berlanjut apakah yang menyebabkan tsunaminya? Sesudah berbagai urun pendapat dan analisis, diputuskanlah bahwa penyebab tsunami adalah erupsi GAK. Kemungkinan tsunami akibat longsor bawah laut karena pengaruh erupsi GAK. Pada saat bersamaan sedang terjadi air laut pasang sehingga gelombang yang menerjang memiliki ketinggian yang bervariasi.

Sesudah mengumumkan analisis dan kesimpulan tersebut, pemerintah menyatakan penyebab tsunami yang tidak didahului gempa ini membingungkan karena menjadikan gelombang maut terjadi tanpa bisa dideteksi sebelumnya. Bahkan Presiden Jokowi (kalau saya tak salah ingat) menyatakan bahwa kali ini kita kecolongan (lantaran tsunami terjadi tanpa ada gempa atau tidak dapat dideteksi lebih dahulu). Ini baru pertama kali terjadi di Indonesia.

Tidak Pernah Belajar

Tentu saja, saya dan kita mengamini pernyataan Pak Presiden plus jajarannya bahwa tsunami  kali ini terjadi dan memakan korban jiwa tanpa bisa dideteksi lebih dahulu. Bisa dibilang kita terkecoh, seperti pepatah bilang air tenang menghanyutkan, air beriak tanda tak dalam. Jadi tsunami yang kali ini terjadi (berdasarkan penyebabnya) unik dan baru kali ini terjadi di Indonesia (mungkin juga dunia). Okelah ini menjadi dalih.

Hanya saja (kalau mau jernih menilai) secara utama saya katakan bahwa bangsa kita ini malas dan tidak mau belajar dari yang sudah-sudah. Kalau sudah malas dan tidak mau belajar, bagaimana hendak berubah? Bagaimana mau menerapkan mitigasi bencana secara efektif dan terintegrasi?

Pada titik ini, saya perlu menyebut Jepang. Ya, negara kepulauan ini telah dikenal sebagai negara rentan bencana alam gempa dan tsunami. Kerawanan Jepang tersebab geografisnya yang berada di zona cincin api pasifik, yang tak lain adalah lokasi dari 90 persen gempa di dunia (tirto.id). Lengkapnya (sebagaimana dikutip dari situs Kedubes Jepang), Jepang terletak di zona seismik aktif, dengan topografi yang bergunung-gunung yang kaya akan gunung api dan sekaligus juga terletak pada jalur taifun. Jikalau kita lacak, kedua bencana tadi punya riwayat panjang di negeri Sakura. Salah satunya Tsunami Gempa Meiji Sanriku yang terjadi pada tahun 1896. Tsunami ini menewaskan lebih dari 20.000 orang.

Serta jangan lupakan bencana gempa dan tsunami dahsyat Tohoku pada 2011 dan menewaskan lebih dari 10ribu orang. Padahal (saat itu) soal mitigasi bencana, Jepang adalah yang terdepan (juga sampai kini) bersama negara Chile, Meksiko, Amerika Serikat, dan Selandia Baru (idntimes.com). Dalam kompas.com disebutkan beberapa upaya Jepang dalam hal mitigasi becana dan tsunami. Ada 8 upaya yang dilakukan a) membangun rumah tahan gempa, ada dua persyaratan ketat dalam hal ini dimana bangunan yang dibangun takkan runtuh karena gempa dalam 100 tahun ke depan dan bangunan dipastikan takkan rusak dalam 10 tahun pembangunan; b) peringatan gempa di ponsel pintar sampai 5-10 detik sebelum bencana seningga penduduk masih memiliki waktu untuk mencari perlindungan; c) kereta peluru yang memiliki sensor gempa yang akan segera menghentikan laju kereta apabila gempa terjadi sehingga dapat menghindarkan jatuh banyak korban; d) siaran tv yang segera memberi informasi kepada penduduk seperti bagaimana mencari perlindungan dan apakah tsunami masih ada; e) ransel darurat berisi hal-hal penting yang dapat digunakan untuk bertahan hidup selama tiga sampai tujuh hari ke depan apabila terjadi bencana; f) peran ibu rumah tangga karena gempa biasanya berdampak pada pipa gas yang bisa menyebabkan kebocoran dan ledakan dan para ibu ini dilatih untuk penanganan hal tersebut untuk gempa, mereka juga berperan memeriksa kesiapan ransel darurat yang diberikan oleh pemerintah pada setiap rumah tangga; g) pelatihan di sekolah di mana sejak usia dini para anak-anak di Jepang telah dilatih mencari tempat perlindungan dan bagaimana bisa aman jika gempa melanda wilayah mereka; h) terowongan penguras air yang akan menyalurkan air akibat siklon dan tsunami sehingga mengurangi banjir di daerah bencana.

Sedangkan dalam website Kedutaan Besar Jepang (www.id.emb-japan.go.jp) dijelaskan bahwa pemerintah dan rakyat Jepang merasa mendorong untuk melakukan usaha bersama terpimpin untuk melestarikan tanah dan mengendalikan banjir serta meningkatkan metode peramalan badai dan banjir serta sistem peringatan dini di tempat-tempat yang sering dilanda bencana. Berkat daya-upaya demikian, tahun demi tahun jumlah korban akibat bencana alam makin berkurang.

Bagaimana Indonesia? Aduh mak! Jauh! Ingat-ingat saja coba bagaimana ada yang tega mengkorupsi dana pembangunan shelter tsunami di Labuan, Pandeglang. Shelter yang seharusnya berfungsi menyelamatkan para pengungsi dari tsunami mangkrak pembangunannya lantaran dikorupsi yang tak tanggung-tang mencapai Rp18 miliar. Walau si koruptor kini sudah ditangkap, diadili dan divonis. Tetap tidak sebanding dengan akibatnya.

Lalu jangan lupakan pencurian buoy pendeteksi tsunami. Eh tapi kabarnya si buoy juga sudah tak berfungsi sejak 2012. Seperti yang dikatakan oleh BNPB yang menyebut alat deteksi tsunami Indonesia atau tsunami buoy sudah tak beroperasi sejak 2012 (Kompas.com, 30/9/2018). Jadi ibaratnya sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Ah tak usah jauh-jauh. Tunjuk saja Lampung ini – yang memang baru terdampak tsunami. Ratusan nyawa melayang, luka-luka dan hilang. Rumah-rumah luluh lantah rata dengan tanah usai diterjang ombak. Saya proihatin. Terlepas – syukurlah – masih banyak orang-orang baik yang punya empati membantu, lembaga dan isntitusi yang memang wajib mengurusi – apa sih yang telah dilakukan sebelumnya untuk antisipasi?

Pernah saya terpikir dan bertanya, apa pernah diadakan pelatihan mitigasi bencana gempa dan tsunami di Lampung? Kata teman wartawan (karena saya nanyanya ke teman wartawan) pernah. Tapi kapan ya? Kalau di Bandar Lampung, yang saya ingat memang ada papan-papan petunjuk evakuasi apabila terjadi tsunami.

Lalu kalau pernah, berapa kali kah? Atau seberapa rutinkah? Nah, nah, susah kan menjawab ini. Kalau di Jepang – pelatihan seperti ini rutin dilakukan untuk semua kalangan. Pemerintah dan warga biasa saling bersinergi mengikuti pelatihan. Mereka memiliki kesadaran bahwa negara, tanah tempatnya dipijak sama dan wajib dilindungi dari bencana. Mengutip kembali situs Kedutaan Besar Jepang, diuraikan tanggal 1 September telah ditunjuk sebagai Hari Pencegahan Bencana di Jepang. Selama Minggu Reduksi Bencana yang berpusat pada hari tersebut, lebih dari 3,5 juta orang Jepang, termasuk Perdana Menteri, ikut serta dalam latihan-latihan kesiapan menghadapi bencana yang diadakan di seluruh Jepang. Untuk mendapatkan hasil yang memadai dalam usaha menekan seminimal mungkin akibat bencana terhadap penduduk, diperlukan penerapan latihan demikian secara berulang-ulang, tidak saja bagi mereka yang langsung terlibat dalam usaha penanggulangannya tetapi juga rakyat umum. Selain itu, langkah pemantauan terhadap “ulah alam” juga tak kalah pentingnya untuk menentukan kesiagaan penduduk menghadapi bencana.

Di sini? Ah boro-boro deh. Saya tak mau berpanjang-panjang karena yang ada pasti ngedumel-dumel. Harapan saya tuh mbok maunya kita punya kesadaran bahwa negara tercinta ini memang rawan bencana gempa dan tsunami. Selanjutnya “kesadaran” tadi terus diingat. Bukan untuk memunculkan, melainkan untuk memicu tindakan progresif dalam hal mitigasi bencana dan termasuk sistemnya (untuk yang ini urusan stakeholder). Kalau membuat pelatihan bersama warga, pejabatnya ikut serta juga dan adakan pelatihan secara rutin. Contohnya seperti Negeri Sakura (tadi yang telah) melakukan ini secara berkala.

Toh bisa dilakukan melalui berbagai pendekatan seperti memanfaatkan kearifan dan sejarah lokal. Contoh nyata dalam hal ini adalah perihal likuifaksi di Palu beberapa waktu lalu. Rupanya soal likuifaksi ini telah dikenal oleh nenek moyang masyarakat Palu dengan sebutan “nalodo” yang berarti amblas dihisap lumpur (detik.com, 7/10/2018). Saat gempa dan tsunami kemarin, likuifaksi tersebut memakan banyak korban lantaran pada daerah rawan tadi justru menjadi pemukiman warga. Dugaan saya, mungkin pemerintah sana tidak tahu karena tidak pernah mempelajari kelokalannya atau mungkin tahu tetapi abai.

Lampung bisa memetik pelajaran dari gempa dan tsunami Palu. Saya yakin pasti ada catatan sejarah (lokal) menyoal tsunami dan gempa di Lampung. Itu bekal yang baik untuk dipelajari dan dianalisis. Tak sebatas mitigasi, melainkan untuk pascabencana. Tetapi memang sepertinya agak berat karena kajian tentang kelokalan itu tergolong tidak populer di Bumi Ruwa Jurai sendiri. Jadi yang sebenarnya tergantung kemauan para stakeholder. Alternatif lain melalui cerita-cerita lisan kelokalan yang diceritakan turun temurun, seperti di Jepang. Ah lagi-lagi Jepang. Tetapi memang benar. Saya kutip kembali dari website Kedutaan Besar Jepang bahwa, misalnya sampai masa modern ini orang Jepang masih sering mendengar cerita yang terjadi sekitar 150 tahun lalu mengenai gempa bumi, tsunami dan seorang kepala yang mengerahkan segala akal dan tenaganya guna menyelamatkan desa dan penduduknya dari bahaya tsunami. Pak kepala desa selalu ingat cerita yang generasi kakeknya yang berkisah bahwa bila di pantai terlihat laut surut secara abnormal hingga maka hal itu merupakan indikasi bahwa tsunami siap menyerbu pantai. Pada waktu kejadian laut menyurut secara hebat, segera dibakarnya setumpuk jerami sebagai tanda agar penduduk kampung berkumpul dan ramai-ramai secara terpimpin berjalan ke tempat yang lebih tinggi. Berkat keputusan dan tindakan cepat itu, banyak penduduk desa yang terselamatkan ketika tsunami datang melanda. Seusai kejadian, kepala desa itu bersama penduduk desa membangun sebuah tembok laut yang besar memanjang sepanjang garis pantai desa. Berkat tembok itulah banyak jiwa terselamatkan ketika tsunami datang sekitar 90 tahun kemudian.

Hampir lupa, kebetulan kita berada di tahun politik. Nah seharusnya ini menjadi perhatian para caleg yang hendak berkompetisi. Sepengamatan saya, belum ada tuh caleg yang memasukkan mitigasi bencana ke dalam visi misinya. Menurut saya ini penting karena kita ini memang hidup di wilayah rawan bencana. Sementara, lemah dalam hal menghadapi bencananya. Alam Indonesia yang indah ini, apakah bisa tetap indah walau dirudung bencana? Apakah jatuhnya korban jiwa dapat diminimalisasi pasca bencana? Kalau kita sungguh mencintai negeri ini, saya yakin pasti akan melakukan yang terbaik untuk menjaga alam yang indah ini dan kehidupan individunya. Terkadang pula saya berpikir, ketika kita dulu dijajah oleh Belanda dan Jepang, kenapa setelah mereka angkat kaki, yang diwariskan mbok yang baik-baik seperti etos kerja, niat yang kuat dan lain-lain yang positif. Andaikata begini, kan Indonesia tidak jadi begini. Tapi nasi sudah jadi bubur, memang beginilah Indonesia. Tinggal apakah kita mau terus menerus begini soal bencana? Makanya ayo kita niatkan sungguh-sungguh soal mitigasi bencana!  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *