Damailah Di sana, Mbak Lucia

IMG_1028
Saya dan Almh Mbak Lucia, foto selfie di rumahnya di Bekasi, 28 Agustus 2017 | Ist

Grup Lupus dan jagat perlupusan di Indonesia, heboh pada Selasa malam, 3 April 2018. Apa sebabnya? Karena kepergian seorang pejuang lupus, Lucia Tyas Wening. Mbak Lucia, biasa saya memanggilnya, menutup mata pada malam itu. Awalnya di sebuah grup lupus (yang saya ikuti) ada seorang anggota menanyakan kabar mengenai Mbak Lucia. Gimana kabarnya Mbak Lucy? Wajar anggota tersebut bertanya. Karena kabar yang terakhir beredar, beliau sedang dirawat di ICU (karena lupusnya). Kami semua di grup itu menyayangi Mbak Lucy, karenanya kami terus memantau perkembangannya dan berharap yang terjadi ialah progres, alias kemajuan terhadap kondisinya.

Usai ada yang bertanya itu, seorang anggota lain berucap demikian: tapi kan Mbak Lucy…(ia tidak meneruskan kalimatnya). Yang berteman dengan Mbak Lucia di facebook (fb) mungkin bisa dicek, apa benar itu tentang Mbak Lucy. Ucapannya itu tentu membuat penasaran yang di grup. Saya yang ikut membaca tak luput bertanda tanya dalam hati dan sebenarnya dag dig dug. Ah jangan-jangan. Saya pun segera membuka fb melalui aplikasi di hp, saya cari akun Lucia Tyas Wening dan hasil pencarian bikin kaget. Di situ tertulis status: selamat jalan adikku Lucia Tyas. Damailah di sana, kami akan selalu mengingat perjuanganmu melawan lupus.

Yang menulis status dan men-tag ke akun Mbak Lucia ialah (kemungkinan besar) kakak Mbak Lucy, soalnya di status itu dia menulis Mbak Lucy sebagai adiknya. Dalam status turut diposting foto Mbak Lucy. Cantik dan manis, menurut saya.

Ah ternyata dag dig dug saya benar. Mbak Lucia berpulang, Tuhan telah memanggilnya. Segera setelah kabar itu terverifikasi kebenarannya, ramailah di grup Lupus Warrior (dan beberapa grup autoimun) oleh ucapan belasungkawa. Mbak Lucia adalah panutan dan juga salah satu pendiri dari grup Lupus Warrior, grup yang saya ikuti. Sebentar-sebentar hp berbunyi, isi pesan berupa ucapan dukacita dan doa yang terbaik untuk almarhumah Mbak Lucia serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Sebagian teman selain berucap duka, juga bercerita dikit mengenai kenangan bersama Mbak Lucia ataupun kesan terhadapnya. Sebagian lagi mengungkapkan rasa tak bisa menerima dan ketidakpercayaan terhadap fakta bahwa Mbak Lucia telah pergi untuk selamanya.

Saya termasuk yang sedih dan tidak percaya. Ketika mendengar kabar ini yang terbersit adalah: ah masak sih? Yang benar? Karena setahu saya, Mbak Lucia itu “sehat”. Dia memiliki lupus nefritis (ginjal) tapi setahu saya kondisinya stabil. Pola makannya dijaga sekali. Dia menerapkan pola food combining untuk keseharian makannya dan dilakukan secara konsisten dan disiplin. Sampai-sampai ia menanam sendiri sayur mayur yang bakal dikonsumsinya. Jelas sehat sekali!

Beda jauh dengan saya yang serampangan. Makan, beli. Kalau pun masak ya seadanya doang. Makan sayur dan buah, yah kalau mood sedang bagus saja dan tidak malas mengupas dan mengunyah buah. Saya punya harapan bisa menjalani pola makan sehat yang konsisten dan disiplin seperti yang telah dilakukan Mbak Lucia. Tapi yaaahhh, begitulah. Niat doang.

Mbak Lucy yang Saya Kenal

Pertemuan pertama saya dengan Mbak Lucia terjadi dalam bulan Agustus 2017. Kalau tak salah 28 Agustus 2017. Harinya saya lupa. Pertemuan itu pun terjadi tanpa diduga-duga. Mbak Lucy sejak beberapa hari sebelum hari H mengabarkan di grup Lupus Warrior bahwa dirinya sedang ada kegiatan di Jakarta. Katanya sih kondangan saudaranya. Seusai acara pernikahan tadi, dirinya lanjut ke Bekasi (di situ dia memiliki rumah) beberapa hari. Yang mau ketemuan, bisa mampir ke Bekasi itu. Demikian dia berkabar di grup.

Beberapa teman sebenarnya telah berencana untuk mampir ke tempatnya. Namun pada hari H ternyata tidak ada. Eh ada ding, yakni saya saja. Saya yang kebetulan sedang di Jakarta dan menumpang tinggal di rumah kenalan di Rawasari Pramuka, perbatasan Jakarta Timur dan Pusat memutuskan main ke rumahnya di Bekasi itu. Dari Stasiun KRL Kramat, saya transit dulu di Jatinegara. Lanjut ke Stasiun KRL Cakung. Dari situ lanjut pakai Gojek. Sesuai instruksinya, saya berhasil tiba di rumah Mbak Lucy yang di Bekasi.

Saat tiba di sana, Mbak Lucy sedang sendirian. Mbak Lucy segera menyambut saya di garasi depan rumahnya. Memeluk dan cipika cipiki, sebuah sambutan yang hangat dan bersahabat. Saya merasa dekat walau baru pertama kali bertemu dengannya. Saya masih ingat baju yang dikenakannya, kaus lengan panjang berwarna merah berbahan wol dan celana kulot warna hitam bermotif bunga-bunga. Di atas rambutnya terpasang kacamata. Bibirnya berpulas tipis lipstik warna merah. Senyumnya yang hangat itu sungguh tak terlupakan.

Segera setelah menyambut saya, ia membimbing ke dalam rumahnya yang sederhana dan sejuk itu. Kami duduk lesehan di ruang depan rumah. Sejenak duduk sambil mengajak obrol. Saya ingat loh bercerita mengenai kegembiraan baru diturunkan dosis methylprednisolone oleh DPL (Dokter Pemerhati Lupus) saya di RS Kramat 128. Sebelumnya saya minum obat dengan dosis 1×1 8 mg menjadi 1×1 selang-seling 8 dan 4 mg. Lalu ia ke belakang. Pas balik lagi, sudah membawa sebaskom kecil berisi es kelapa muda dan dua bungkusan serta piring. Isi bungkusan adalah gado-gado. Kami makan es kelapa muda, dilanjutkan gado-gado. Sederhana namun sehat dan menyenangkan.

Setelahnya dilanjut bincang-bincang lagi. Pas itu sempat dia bertanya, saya kesininya tadi bagaimana? Katanya ada kawan di grup Lupus Warrior yang tanya. Saya belum buka hp dan baca grup sih, makanya enggak tahu. Saya ceritakan tadi berangkatnya pakai KRL terus disambung gojek dan seterusnya-dan seterusnya. Pokoknya sesuai petunjuk dari Mbak Lucy deh. Terus menggunakan hp nya, kami pun berselfi.

Ada 2-3 jam saya di sana, baru kemudian pulang. Saat pulang dan sesaat sebelum gojek tiba, saya masih ingat Mbak Lucy bertanya soal jaket. Karena saya kan dibonceng motor – panas. Sementara kami sebagai odapus diwanti-wanti menghindari sinar matahari siang. Saya bilang enggak bawa tapi saya bawa kain panjang dan lebar. Kain itulah yang saya jadikan penutup kepala dan lengan yang tidak terlindungi oleh baju. Saat menyampirkan kain ke kepala dan sekujur lengan, Mbak Lucy membantu saya.

Hal ini sungguh membekas di hati saya. Menunjukkan betapa perhatiannya beliau terhadap teman-teman atau orang di sekitarnya. Dan menjadi semakin bermakna setelah kepergiannya. Saya pikir saya merupakan salah satu orang yang beruntung karena bisa mengenal dan bertemu langsung dengannya. Terlebih mengingat jarak. Saya tinggalnya di Kota Bandar Lampung, Lampung. Sementara ia tinggalnya di Yogyakarta. Jauh kan?

Ketika keesokan harinya (Rabu, 4 April 2018) di grup, ada kawan yang melayat dan memposting foto-foto Mbak Lucy yang telah berada dalam peti mati, saya hanya bisa diam saja. Saat melihat foto-foto itu, yang sekali lagi terasa adalah rasa tidak percaya. Benarkah ini Mbak Lucy? Benarkah Mbak Lucy telah tiada? Rasanya baru kemarin bertemu dengannya. Saya teringat betapa lincahnya Mbak Lucy ketika bertemu saya, orangnya sungguh energik. Bersemangat. Pun saat di grup (sebelum almarhumah Left Group), ia menanyakan soal pengalaman pakai Dexamethasone yang merupakan salah satu obat kortikosteroid untuk pengobatan lupus.

Dexamethasone
Dexamethasone Oral | Webmd.com

Obat ini fungsinya sama dengan Methylprednisolone. Dalam laman Alodokter.com dijelaskan bahwa Dexamethasone yang merupakan kelompok obat kortikosteroid bekerja dengan cara mencegah pelepasan zat-zat di dalam tubuh yang menyebabkan peradangan. Obat ini digunakan untuk menangani sejumlah penyakit seperti penyakit autoimun (lupus dan sarkoidosis), penyakit peradangan pada usus (misalnya ulcerative colitis dan penyakit Crohn), beberapa jenis penyakit kanker, serta alergi. Dexamethasone juga digunakan untuk mengatasi mual dan muntah akibat kemoterapi, mengobati hiperplasia adrenal kongenital, serta digunakan untuk mendiagnosis sindrom Cushing.

Saya yang kebetulan pernah punya pengalaman menggunakan Dexamethasone menjawab. Saya pernah menggunakan obat ini (sepertinya secara injeksi) saat dirawat inap di RS Kramat 128, Jakarta Pusat dalam bulan Januari-Februari 2017. Dokter Sugi yang menangani saya kala itu, mengatakan bahwa Dexamethasone digunakan untuk mengobati lupus saya yang menyerang ginjal.

Mbak Lucy juga berujar soal penampilan saya yang disebutnya sekarang lebih segar dan lebih berisi dibandingkan dulu (agustus 2017) pertama bertemu dengannya. Dulu mah kurus, tulisnya.

Sampai berapa hari saya masih diliputi ketidakpercayaan. Setiap mengingat Mbak Lucy, yang kerap terbayang adalah sosoknya yang energik dan percaya diri serta tegas. Hal itu rupanya bukan dialami oleh saya saja. Ada kawan yang memutuskan left grup Lupus Warrior tak lama sesudah wafatnya Mbak Lucy, saya tanya kenapa? “Nggak kuat, Karin. Ingat sama Mbak Lucy terus. Soalnya Ade sering ngobrol (WA) dengan Mbak Lucy,” jawab teman yang bernama Ade itu.

Ah Mbak Lucy, mengapa engkau begitu cepat meninggalkan kami? Saya banyak belajar darimu mengenai ilmu perlupusan dan saya masih ingin terus belajar darimu mengenai ini. Tapi bilakah mengingat takdir, siapakah yang bisa menentangnya? Takdir yang ditentukan oleh Ilahi dan sesedihnya saya dan kawan-kawan, kami harus menerima bahwa inilah jalan yang dipilih dan ditentukan oleh Ilahi untukmu. Damailah Mbak Lucia. Saya dan kawan-kawan selalu menyayangimu dan mendoakan yang terbaik untukmu. Amin. (Salemba Tengah, Sabtu 12 Mei 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *