(Cukup) Menikmati Sensasi “Menjerit” di Ayam Jerit Titi Kamal

Paket nasi ikan cakalang di Ayam Jerit Titi Kamal, Teras Benhil Jakpus, Sabtu (25/05/2019) | Dok Pribadi

Sudah menjadi rahasia umum, banyak selebriti Indonesia yang berbinis kuliner. Sebut saja Syahrini dengan produk bolunya, pasangan Teuku Wisnu-Shireen Sungkar dengan produk pie apple-nya, Ruben Onsu dengan ayam geprek-nya. Nah tak ketinggalan adalah artis Titi Kamal dengan brand kuliner Ayam Jerit. Mengutip laman suara.com, kiprah istri dari aktor Christian Sugiono di bisnis perkulineran sebenarnya telah dirintis lebih dari 10 tahun lalu melalui usaha katering bernama Titisari. Sementara label Ayam Jerit merupakan peluasan atau semacam diversifikasi usaha kulinernya dimulai sejak tahun 2016.

Semenjak awal dibuka, sampai saat ini (2019), Ayam Jerit telah sukses memiliki beberapa cabang yang tak sebatas di Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek). Dilihat dari Instagramnya, beberapa outlet cabang Ayam Jerit tersebar bahkan hingga di luar Pulau Jawa. Ada yang di Pulau Sumatera dan Sulawesi.

Sepintas membaca namanya, kita segera tahu bahwa menu utama jualan dari Ayam Jerit adalah berbahan ayam. Namun ayam yang bagaimanakah? Saya bersama teman pada Sabtu, 25 Mei 2019 lalu berkesempatan mencoba Ayam Jerit-nya Titi Kamal. Acaranya dalam rangka berbuka puasa bersama, tapi walau disebut bersama sebenarnya kami hanyalah berdua (saya dan seorang teman yang bernama Ega). Kami membuat janji bertemu di outlet Ayam Jerit Titi Kamal yang berlokasi di Teras Benhil. Menurut informasi yang saya pernah baca dari hasil googling, inilah outlet pertama dari Ayam Jerit sebelum cabang lainnya dibuka.

Lokasi Teras Benhil berada tak jauh dari halte TransJakarta Bendungan Hilir dan kalau kamu tahu Rumah Makan Padang Surya yang legendaris itu plus pernah dikunjungi chef kenamaan alias celebrity chef, almarhum Anthony Bourdain (untuk liputan acara di stasiun televisi CNN), semakin mudah mencarinya. Karena Teras Benhil berada di seberang menyamping dari RM Surya. Teras Benhil sendiri semacam tempat yang dibuat sebagai pusat dari foodcourt. Saat tiba di sana sekitar pukul 17-an WIB, suasana telah ramai karena menjelang buka puasa. Sekitaran jalan di sana pun memang terkenal banyak menjual makanan, tak ayal terkadang terjadi kemacetan di jalan depan Teras Benhil.

Outlet Ayam Jerit berlokasi di lantai 2 dari Teras Benhil, Ega (teman saya itu) rupanya sudah lebih dahulu tiba di sana dan men-tag tempat duduk. Pengalaman bukber di luar apalagi saat weekend terkadang memang horor. Bisa ramai sekali dan tidak kebagian tempat duduk. Alhasil pas jam berbuka, eh kita cuma bisa menahan air liur melihat orang lain makan. Jadi tepat sekali ketika Ega sudah duluan tiba dan langsung men-tag tempat di sana. Saat tiba, memang belum terlalu ramai. Pas telah hampir pukul 18, baru deh meja kursi di outlet terisi penuh.

Outlet-nya sendiri terbilang sederhana (walau yang punya sekaliber artis). Kursi dan meja berbahan kayu yang divernis dan ada yang model sandaran berbantal, dindingnya ditempel wallpaper bermotif bata dan ada cermin dipasang pada dinding. Kalau dalam ilmu fengshui, pemasangan cermin ini untuk memberi kesan luas dari ruangan yang tak seberapa besar plus bisa mempengaruhi energi chi tempat tersebut, energi chi yang positif.

Pramusaji menghampiri kami, eh tidak. Sebenarnya saya yang memanggil. Gegas dia menghampiri seraya memberikan daftar menu biasa dan menu promo. Ega memesan paket nasi ayam goreng tepung plus minum dan tumis kangkung lalu belakang menyusul pesan es lemon tea. Saya? Mikir-mikir dulu, buka-buka menu dan akhirnya jatuhlah pada nasi cakalang. Biarpun namanya Ayam Jerit, menu yang ditawarkan tak mutlak ayam semua. Ada menu berbahan ikan, cumi, sayur mayur. Oh ya ditambah segelas es lemon tea yang gulanya dikurangi.

Tak lama setelah memesan, pesanan Ega datang yang tumis kangkung. Disusul paket nasi ayam goreng tepung. Sudah jam berbuka dan sudah lapar maka langsunglah disantap olehnya. Punya saya belum datang jadi selama si Ega makan lahap, saya hanya bisa ngelihatin saja dia makan. Tunggu punya tunggu yang entah berapa menit tapi lama kalau menurut saya. Kok pesanan belum datang-datang juga. Sampai akhirnya saya menghampiri meja kasir untuk mengingatkan ulang orderan saya, sambil meminta air mineral bonus paket.

Kata si mbak pramusaji sih diminta sabar, soalnya yang bertugas untuk melayani konsumen hanya sedikit, hanya dua-tiga orang. Astaga, kata saya. Lalu mulai deh saya berkata, “mbak, kok cuma dua orang sih? Ditambah dong pasukannya (baca; pramusaji). Turunin semua pasukannya. Kan jam buka begini pasti ramai, harusnya sudah tahu dan antisipasi dong”. Agak gregetan juga mendengar jawaban si mbak pramusaji soal dua orang tadi. Bayangkan saja, saat itu semua meja kursi terisi konsumen. Mereka pesan makanan dan minuman, dan pasti ingin lekas bersantap karena telah seharian menahan lapar dan dahaga. Sayangnya dengan pramusaji yang hanya dua orang, niatan segera tadi harus menjadi lebih lama. Bahkan ada seorang konsumen yang duduk tak jauh dari meja kami juga gregetan lantaran pesanannya tak kunjung tiba.

Penampakan paket nasi ayam yang telah tandas dan paket nasi ikan cakalang yang baru datang di Ayam Jerit Titi Kamal, Teras Benhil Jakpus, Sabtu (25/05/2019) | Dok Pribadi

Bagaimana pesanan saya? Akhirnya datang juga setelah Ega tandas menyantap nasi ayamnya. Saat itu ayam tinggal tulang belulang, barulah nasi paket ikan cakalang saya datang. Itu juga tak segera saya santap karena masih menunggu kecap yang sebelumnya saya minta tapi belum juga datang. Entah apa pramusajinya kelupaan atau gimana, ah tahu deh gimana. Bingung sendiri makan di sini jadinya.

Dan andaikata taste dari menunya enak…, mungkin saja saya bisa melupakan semua itu. Jujur, rasanya biasa saja. Paket nasi ikan cakalang yang saya pesan begini rupanya nasi satu ceplok, tahu tempe masing-masing sepotong, dua iris timun, sambal yang super pedas dalam mangkuk kayu dan ikan cakalang disuwir. Ikan cakalang itu saya colek sedikit ke sambal lalu hap. Rasa dagingnya sih gurih tapi ada yang bikin saya nggak sreg, seperti terasa aroma asap gas dari setiap suwiran ikan cakalang tersebut. Tidak beraroma alami. Jadi gegara itu, saya lebih menikmati menyantap tahu tempenya ketimbang suwiran ikan tadi.

Belakangan saat mau selesai makan, iseng saya tanya pramusaji soal ikan cakalangnya dan benar dugaan saya. Dikatakannya bahwa ikan tersebut diasap menggunakan gas elpiji. Owalah pantes. Aromanya berbeda. Saran saya, coba deh diasapnya menggunakan arang kayu atau batok kelapa, pasti lebih enak dan menggugah selera. Alhasil sampai nasi habis, itu ikan suwir hanya sedikit tersentuh saya.

Selain ikan, rasa sambalnya juga kurang mengena di lidah saya. Bukan soal pedasnya, kalau itu sih sudah cukuplah bikin menjerit – sesuai merk Ayam Jerit. Ega saja sampai mendesah kepedasan pasca makan paket nasi ayam goreng tepung-nya dan itu kenapa dia nambah pesanan es lemon tea. Guna menghalau jerit pedas tadi.

Namun lebih kepada kekayaan rasanya. Dalam memori lidah saya, yang tercecap hanyalah pedas gurih saja. Nggak ada sedikit rasa manis atau segar dari jeruk. Kata si mbak pramusaji sambal cocolannya berjenis sambal matah. Ah, betul nih sambal matah? Nggak salah? Berdasar yang saya baca di web suara.com, ada tiga jenis sambal yang disajikan sebagai teman santap lauk yakni sambal terasi, sambal petai dan sambal gebrak. Atau bisa saja jenis sambalnya sudah mengalami inovasi baru ya. Baiklah, sebut saja sambal matah. Idealnya sambal matah terdapat bahan serai, bawang putih, daun jeruk atau perasan jeruk. Nah sambal yang ini tak terasa bahan-bahan itu.

Jadi akhirnya ya begitulah. Kalau mau diberi poin mengenai Ayam Jerit, skornya adalah 6. Justru yang cukup oke adalah es lemon tea dan tumis kangkung-nya. Sampai saya selesai makan, si Ega masih sesekali ribut kepadasan. Malah malam sepulang kami dari Plaza Semanggi (setelah dari Benhil), Ega bilang perutnya terasa panas efek si sambal. Minum air yang banyak, begitu saran saya. Akhir cerita, ya beginilah kisah bukber di Ayam Jerit dari Teras Benhil. Untuk harga, cukup terjangkau. Namun soal rasa, masih belum mengena di hati. (Jakarta – Senin, 27 Mei 2019).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *