Autoimmune and Me, Pahami Pasti Teratasi

Buku Ai and Me
Buku Autoimmune and Me|Ist

Apa yang dirasakan ketika kita, sahabat atau salah seorang anggota keluarga didiagnosis autoimmune? Kaget, takut, tidak dapat menerima kenyataan atau tidak berdaya – seketika memenuhi hati dan benak? Sangat wajar! Bahkan masa depan pun dipenuhi ketidakpastian dan bayangan kematian datang menghantui pikiran (hal viii).

Inilah sepenggal paragraf yang akan kita temui ketika membuka lembar awal dari buku Autoimmune (AI) and Me (Inspirasi Sehat dan Panduan Praktis Reversing Autoimmune) yang ditulis oleh tiga perempuan; Susan Hartono, Joyce Heryanto dan Susanty Anastasia. Paragraf yang berisi pertanyaan tadi sungguh tepat karena memang AI tergolong penyakit kronis dan masih banyak yang awam terhadap golongan penyakit ini. Kronis dimaknai sebagai berulang, menahun atau jangka panjang. Sedangkan awam, masih banyak yang tidak mengerti mengenai penyakit yang bila dibagi-bagi lagi ada kurang lebih 150 jenis – yang seringkali berimbas pada penanganan tidak tepat dan bahkan menjadi fatal, seperti menyebabkan kecacatan dan kematian.

Nah, dalam buku yang ditulis kolaborasi tiga orang tadi – kita akan dibawa menjelajahi sisi lain dari penanganan AI. Umumnya, orang sakit pasti ke dokter dan setelahnya diresepkan obat untuk diminum. Begitupun dalam kasus AI. Perbedaannya, obat-obatan yang diminum ODAI (orang dengan autoimmune) bukanlah untuk menyembuhkan. Melainkan sebagai terapi atau mengendalikan si imun (imunitas) di dalam tubuh. Praktis obat-obatan yang diminum haruslah jangka panjang. Masalahnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa yang namanya obat-obatan (kimia) pasti memiliki efek samping.

Minum untuk jangka pendek saja sudah ada side effect-nya. Apalagi jangka panjang, seperti penyakit AI? Namun apakah hanya dengan obat medis – satu-satunya jalan untuk mengendalikan si imun berlebih dalam tubuh ODAI? Jawabnya tidak! Ternyata melalui makanan pun berpengaruh signifikan bagi kondisi tubuh ODAI. Hal inilah yang menjadi isi pokok dalam buku Autoimmune and Me.

Supaya tidak membingungkan dan dapat mudah dipahami, para penulis membagi isi buku dalam 5 bab utama. Pada bab pertama, Why Is My Immune System Attacking Me? (hal 3) dijelaskan mengenai seluk beluk imunitas manusia. Ditulis dalam buku, sistem imun sebetulnya didesain untuk melindungi tubuh kita dari ancaman patogen (seperti virus, bakteri) dan zat-zat asing lainnya (zat kimia, allergen, sel kanker, dan lain-lain) yang dapat membahayakan tubuh.

Namun dalam kasus AI, sistem imun tersebut justru berbalik menyerang sel atau jaringan-jaringan sehat pada tubuh. Dalam semua kasus AI ditemukan predisposisi genetik yakni sebuah kecenderungan overaktif dari sistem imun, yang diakibatkan oleh mekanisme failure to self tolerance.

Namun gejala AI tersebut baru bisa dirasakan ketika faktor genetik tersebut terstimulasi atau terekspresikan, di mana sistem imun memproduksi antibodi atau autoantibodi yang menyerang jaringan sehat pada tubuh. Adapun sistem imun yang mempunyai kecenderungan untuk overaktif hingga akhirnya mengalami kerancuan, tidak terjadi dalam semalam.

Para penulis dalam bukunya menyebut bahwa semua penyakit dimulai dari pencernaan. Pernyataan tersebut merujuk pada pernyataan Hipocrates – yang notabene Bapak Kedokteran Dunia – yang mengatakan All disease begin in the gut. Dan tak terkecuali penyakit AI. Mengapa? Karena sekitar 70-80% sistem imun kita terdapat pada saluran pencernaan. Oleh sebab itu, pencernaan yang tidak sehat akan mengacaukan sistem imun kita (hal 5).

Pada kondisi AI, selalu diawali atau diasosiasikan dengan masalah pencernaan yang disebut leaky gut syndrome. Secara singkat, leaky gut adalah kondisi di mana terjadi peningkatan permeabilitas usus. Dinding usus yang seharusnya rapat menjadi renggang dan menyebabkan zat makanan yang melewati usus menjadi rembes dan bocor dan masuk ke dalam aliran darah. Makanan yang belum selesai diproses (dicerna) tersebut sebetulnya tidak boleh keluar dari dinding usus.

Perembesan ini (bisa protein semacam gluten, bakteri patogen dan lain-lain) yang masuk ke aliran darah, dianggap benda asing dalam tubuh. Ketika sistem imun melihat benda asing dan racun, maka sistem imun akan bereaksi melakukan perlawanan terhadap benda asing dan racun tadi. Kondisi ini disebut inflamasi kronik sistemik dan bila berlangsung terus menerus maka menjadi inflamasi kronis.

Pada bab kedua Re-Thinking Autoimmune (hal 21), kita akan diajak untuk memikirkan ulang tentang AI. Ada anggapan yang sering rancu seputar AI. Pertama, AI disamakan dengan sistem imun yang terlalu kuat, dan kedua, AI dapat sembuh hanya dengan obat. Sebenarnya bukanlah imun yang terlalu kuat (untuk poin pertama), melainkan overaktif dan stres. Sistem imun jadi gagal membedakan antara lawan dan kawan.

Sedangkan untuk poin kedua, tidak terlalu tepat hanya dengan obat-obatan. Fungsi obat-obatan yang tergolong imunosupresan adalah membantu meringankan gejala atau sakit yang diderita oleh seorang ODAI, terlebih lagi bila orang tersebut tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari atau apabila situasi kritis, bahkan mengancam organ tertentu.

Apa yang dilakukan imunosupresan? Berfungsi menekan kerja sistem imun. Tetapi obat-obatan ini sebaiknya bukan untuk jangka panjang karena selain menekan kerja sistem imun (sehingga mengurangi reaksi AI), obat ini juga menurunkan respon kekebalan tubuh keseluruhan. Akibatnya tubuh pun lebih rentan terhadap berbagai macam infeksi. Dengan kata lain, fungsi obat imunosupresan adalah managing symptoms.

Setelah semua gejala dapat diatasi, perlu segera diambil langkah untuk membalikkan (reversing) keadaan – menstabilkan. Caranya dengan langkah holistik yakni kombinasi spirit-pikiran-tubuh.

Menjadikan makanan sebagai obat (food as medicine), dibahas dalam bab 3 (hal 43). Di sini dijelaskan lengkap tentang pentingnya clean eating untuk reversing AI. Para penulis membagi 7 langkah untuk melakukan reversing itu – sebelum melakukan clean eating yakni a) stop inflamasi, b) eradikasi patogen dan racun, c) memperbaiki kondisi usus, d) merepopulasi mikrobioma baik, e) mengatasi defisiensi nutrisi, f) mengatasi masalah emosi atau stress, yang khususnya berkaitan dengan kondisi AI-nya, dan g) menyeimbangkan hormon.

Sementara dalam kaitannya dengan pilihan makanan. Sangat perlu bagi kita untuk mengenali makanan sebab faktor yang satu ini dapat pula memicu inflamasi. Ada makanan yang harus dihindari, makanan yang aman, makanan yang perlu hati-hati.

Lanjut ke bab 4 Re-Introducing Healthy Food (hal 55), kita diajak untuk mengenali kembali makanan-makanan sehat sekitar kita. Prinsip clean eating untuk AI menganut 5P (tanpa pewarna, pengawet, perisa, penyedap, perekayasa genetika atau GMO). Clean eating dalam versi para penulis difokuskan pada diet whole plant based (diet plant based).

Diet ini adalah diet dengan asupan utama makanan berbahan dasar non hewani atau tanaman. Mengenai pemilihan diet, sebenarnya beragam. Akan tetapi berbagai penelitian telah menemukan bahwa mengonsumsi lebih banyak whole plant based dapat menurunkan berbagai resiko penyakit kronis.

Dalam bab ini juga dipaparkan bagaimana mengolah makanan dan tips-tips-nya supaya nutrisi makanan-makanan ini lebih optimal memberi manfaat bagi tubuh. Plus resep-resep olahan berbasis diet whole plant based tadi (hal 61).

Bab 5 yang merupakan bab terakhir, membahas Caregiver dan Autoimmune (hal 85). Apakah caregiver? Siapakah caregiver? Mereka adalah orang-orang yang memberikan perhatian, dukungan, nasihat, dorongan agar mereka yang hidup dengan AI dapat hidup berdamai dengan apa yang sedang dihadapi.

Keberadaan caregiver tergolong penting (tapi adakalanya terlupakan). Mengapa? Karena kekuatan dan tekad yang keluar dari seseorang dengan AI lebih mudah ditemukan dan terlihat, ketika ia memiliki teman seperjuangan atau kelompok orang yang menemaninya di sepanjang jalan.

Keberadaan caregiver menjadi lebih penting khususnya bagi ODAI yang harus hidup bersama penyakitnya sepanjang hayat. Setiap orang dapat menjadi caregiver, biasanya anggota keluarga atau sahabat dari ODAI. Dalam buku diuraikan sejumlah peran caregiver

Ketika divonis penyakit AI adalah wajar memiliki rasa cemas dan ketakutan. Namun tak boleh berlarut dan justru yang perlu dilakukan ialah segera “belajar” supaya lebih memahami penyakit dan tubuh sendiri. Dalam kasus AI, meminum obat memang tak dapat dihindarkan. Tapi obat bukanlah satu-satunya jalan. Makanan pun berperanan. Pemilihan makanan yang tepat, niscaya sangat membantu membalikkan kondisi (dari tidak stabil menjadi stabil) dan menjaga kondisi tetap stabil (menghindarkan terjadi inflamasi) pada ODAI. Jadi meskipun penyakit AI merupakan penyakit kronis, dengan Seperti yang dikatakan Marie Curie, ilmuwan perintis dalam bidang radiologi dan pemenang Nobel dua kali yakni Fisika pada 1903 dan Kimia pada 1911 bahwa Nothing in life to be fear, it is only to be understand. (Salemba Tengah -Jakarta, 20 Juli 2018)

Data Buku

Judul Buku          : Autoimmune & Me, Inspirasi Sehat dan Panduan Praktis Reversing Autoimmune

Penulis                 : Susan Hartono, Joyce Heryanto dan Susanty Anastasia

Tebal Buku          : xvii+104 halaman

Tahun Terbit      : 2018 (Cetakan Pertama)

Penerbit              : PT Visi Anugerah Indonesia

Harga                    : Rp 80.000

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *