Air Kost Tak Mengalir, Duh Nyeseknya Tuh Di sini…

Kran Air | Ist
Kran Air | Ist

Pernah nonton nggak film-film atau drama seri keluarga yang menceritakan tentang anak kost? Banyak kok, tapi saya nggak ingat. Apa yang diingat hanyalah apa yang dialami oleh anak kost, yang diwarnai suka dan duka. Terkadang suka, terkadang duka. Malah bisa dukanya jauh lebih besar pasak daripada tiang. Sedih kan?

Ngekost itu identik dengan hidup ngirit, khususnya makan. Mie instan jadi teman setia anak kost dikala kantong tipis atau belum dapat kiriman dari orangtua. Syukur-syukur kalau bisa makan gratis. Alhamdulillah.

Selain makan, ongkos dan belanja-belanja juga ngirit. Saya pernah mengalami. Bukan ngekost sih tapi tinggal tempat kerabat. Ya tetap sajalah. Kemana-mana saya bela-belain jalan kaki. Jarak 500 meter kalau versi orang lain “jauh” dan sudah cus pakai motor atau gojek. Saya? Pakai kaki sambil berpayung menghalau panas. Jarak segitu mah dekat. Belanja juga jarang. Mikir seribu kali kalau mau shopping. Ditempa berpuluh-puluh tahun jarang shopping membuat saya jadi pribadi yang tahan beli-beli, sekarang. Alhamdulillah lagi.

Lalu jangan abaikan soal listrik yang kerap biarpet atau air yang kotor, mampet bahkan tidak mengalir. Nyesek jadinya. Soal air ini loh yang bikin saya nyesek sangat. Sampai-sampai kuingin marah-marah kalau ngomongin air. Ini aja amarahnya disabar-sabarin pas menulis.

 

Sampai Tidak Mandi

Masalah air tidak mengalir ini sebenarnya baru saya alami di kost-an yang baru saya tinggali Juni 2017. Sebelum kost disitu, lebih dulu saya kost di Jalan Ahmad Yani, Bandar Lampung (sekarang sudah jadi reruntuhan dan dibangun baru) dan di Jalan Lindu Bandar Lampung – keduanya di daerah Tanjung Karang deh.

Nah, kost yang bermasalah airnya adalah kost yang ketiga yang berlokasi di Jalan Dr Sutomo alias Gang Jangkung. Masalah terjadi saat hendak menyalakan pompa air. Ibu kost pernah menjelaskan langkah-langkah menyalakan pompa kepada saya yang masih “hijau” ini. Pertama dicolok ke stop kontak yang paling ujung kiri lalu keran yang di samping rumah pompa diputar.

Oke, pelan-pelan saya ikuti sambil berdegup. Nggak pernah ngurus-ngurus  pompa sebelumnya. Apakah airnya mengalir sesudah semua langkah saya ikuti? Tidak, yang terjadi listriknya jebret. Saya ulangi lagi langkah yang sama setelah memindahkan tombol meteran listrik dan hal yang sama berulang. Jelas ini nggak benar.

Sempat muncul dugaan listriknya tidak kuat, berhubung daya listrik disuplai secara token. Dugaan ini dari seorang teman yang saya hubungi mengenai token. Lalu saya isi token listriknya 50 ribu sebanyak dua kali, eh masih begitu juga.

Saya nyerah deh. Saya cari solusi untuk ini. Pertama saya hubungi pihak PLN melalui call centernya. Lama terhubungnya sebelum dijawab. Kepada operator saya ceritakan bla-bla bla dan menurut mereka, kesalahan atau ketidakberesan ada pada pompanya. Bukan listrik. Ia menyarankan untuk menghubungi tukang pompa.

Baiklah, selanjutnya saya hubungi ibu kost. Tadinya sms dan cerita masalahnya. Alih-alih memberi solusi, ia malah merasa saya jadi membebani. Tapi saya kan butuh, maka mau tak mau lah menghubungi dia – sambil disabar-sabarin. Ditelpon, saya minta ia segera datang. “Bu, pompanya rusak. Gimana dong? Nggak punya air nih,” kata saya sambil terisak. Orangnya sih bilang oke-oke – menyiratkan paham. Tapi tunggu punya tunggu tidak datang.

Terpaksalah saya tidak mandi sore itu. Sampai esok hari loh. Bahkan untuk pipis saja ditahan-tahan lantaran tidak ada air. Sedih? Iya lah. Jadi begini ya rasanya yang tidak punya air. Kesehatan jadi taruhan karena jadi nggak bisa mandi membersihkan kuman dan melakukan urusan belakang (Oh ya, baru sekarang juga saya sadar, mungkin ini salah satu penyebab saya sempat mengalami ISK alias Infeksi Saluran Kemih.

Sampai mandinya saya menumpang di tempat kawan di Natar – yang tak lain sudah masuk Kabupaten Lampung Selatan. Jauh banget menumpang mandinya. Baru sore hari sesudah pulang dari tempat kawan itulah ibu kost saya datang – membetulkan pompa air. Bikin manyun kan?

 

Nggak Kapok

Apa cerita usai sampai disini? Eh ternyata tidak, saudara-saudara. Di bulan April 2018 berulang lagi hal ini. Pompa bermasalah – entah apanya. Saya sabar-sabarin saja dan berusaha diakali dengan cara mengisi air sebagai persediaan. Sehingga walau airnya kecil, masih tetap ada air untuk mandi, nyuci dan sebagainya.

Tapi sesabar-sabarnya yah jebol juga. Pas Senin, 16 April 2018 – pompa air sama sekali tidak bisa dipakai. Lha iya. Gimana mau coba dinyalakan kalau colokannya tidak ada. Hanya tersisa kabelnya tok. Sampai heran itu colokan kemana? Apa digondol tikus?

Bersyukurnya pas hari kejadian pas hari keberangkatan saya ke Jakarta untuk berobat. Pagi pula saya sudah mandi. Jadi untuk sementara waktu saya bisa mengungsi dan sejenak melupakan ihwal pompa air kost an yang njengkelin itu.

Sewaktu saya mau berangkat, saya lihat itu tetangga depan berdiri di teras bedengnya dan ada seember besar baju kotor plus deterjen. Tatapannya kecewa. Jelas lah, siapa yang tidak kecewa? Kenapa kok tidak lekas diurusin oleh pemilik kostnya? Entah mau kemana ibu ini akan membawa baju-baju kotor itu untuk dicuci. Kalau berlangsung lama, tidak segera dibetulkan – betapa beratnya toh. Bikin stres dan mau marah.

Tiba di Jakarta, apakah beres? Eh tidak juga. Nyatanya kostan saya di Jakarta tertular sindrom air mampet juga. Kapan itu ya – airnya tidak mengalir di jam-jam tertentu. Ada beberapa hari begitu. Pagi mengalir, mulai pukul 9 pagi ke atas zonk. Ada apa toh? Komplain ke pengelola kost, katanya mau dicek dulu. Kayaknya ada penghuni kost yang krannya dibuka terus. Begitu prediksinya.

Tak lama air lancar. Lha hari ini, begitu lagi. Sampai saya enggak mandi lantaran kepepet perlu keluar untuk membeli makan siang. Yah mau gimana toh jadinya, disabar-sabarin. Begitulah derita anak kost. (Dalam kamar kost di  Jakarta – Kamis, 5 Mei 2018).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *